POLIGINI DAN POLIANDRI

arikel lama. tapi ya, lumayanlah…

POLIGINI DAN POLIANDRI

 

Poligami adalah istilah yang mencakup dua kategori: poligini untuk laki-laki yang memiliki pasangan (istri) lebih dari satu; dan poliandri untuk perempuan yang memiliki pasangan (suami) yang lebih dari satu. Tulisan ini lebih memfokuskan untuk menawarkan model pembahasan seperti apa yang seharusnya dipakai dalam mengkaji poligami. Karenanya, pembahasan tentang hukum poligini dan poliandri hanya disampaikan dengan sangat singkat di bagian akhir.

Kebolehan Poligini

Sebagian orang menganggap bahwa poligini sampai sekarang masih diperbolehkan oleh agama. Mereka beralasan bahwa poligini dapat menjadi alternatif solusi bagi permasalahan yang terkadang menimpa sebuah rumah tangga.
Terkadang sepasang suami-istri tidak kunjung memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah, karena sang istri mandul. Mereka bisa saja bercerai. Namun poligini bisa menjadi alternatif yang lebih baik, ketika sang suami sangat mencintai istrinya, demikian pula sang istri sangat mencitai suaminya, dan keduanya tidak menghendaki perceraian.
Demikian pula, poligini dapat menjadi jalan keluar ketika, misalnya, sang istri sakit keras yang menyebabkannya tidak mampu melayani suaminya. Padahal sang suami butuh ada yang melayani. Dengan poligini, si suami tetap bisa merawat istrinya yang sakit, namun juga hasratnya dapat disalurkan dengan istrinya yang lain.

Poligini juga dapat menjadi penyelamat bagi laki-laki yang hyper-sex dari perzinahan dengan wanita lain yang tidak halal baginya. Selain itu, jumlah wanita yang lebih banyak dari laki-laki mempertegas kebolehan poligini.

Kebolehan Poliandri

Jika poligini diperbolehkan dengan alasan-alasan di atas, maka selayaknya poliandri pun dilegalkan! Mengapa tidak? Kemandulan tidak hanya bisa menimpa perempuan, tetapi juga laki-laki. Laki-laki juga punya potensi mandul. Oleh karenanya, kalau solusi ketika perempuan mandul adalah poligini, maka poliandri pun dapat menjadi solusi jika laki-lakinya yang mandul.

Demikian pula, poliandri dapat menjadi jalan keluar ketika, misalnya, sang suami sakit keras yang menyebabkan tidak mampu melayani istrinya. Padahal sang istri butuh ada yang melayani. Dengan poliandri, sang istri tetap bisa merawat suaminya yang sakit, namun juga hasratnya dapat disalurkan dengan suaminya yang lain.
Poliandri juga dapat menjadi penyelamat bagi perempuan yang hyper-sex dari perzinahan dengan laki-laki lain yang tidak halal baginya. Sementara data statistik di beberapa negara seperti Tiongkok yang menunjukkan laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan, seharusnya menyadarkan orang bahwa poliandri pun tidak boleh dilarang jika memang poligini diperbolehkan!

Problem yang Sambung-Menyambung

Sependek uraian di atas, perdebatan kubu pro-poligini dan anti-poligami belumlah selesai. Masih ada pertanyaan yang belum terjawab (atau bahkan tidak terjawab) oleh masing-masing kubu. Atau mungkin, dengan kalimat yang lebih tepat, masing-masing tidak mampu mengemukakan argumnetasi yang benar-benar mutlak dan sempurna, karena alasan yang dikemukakan (setidaknya sejauh yang terbaca di atas) bersifat relatif-kasuistik belaka.
Jika pembahasan semacam ini diterus-teruskan, perdebatan akan memanjang dan bisa jadi tidak berkesudahan. Ambil contoh perdebatan poligini-poliandri di atas kita teruskan.
Pihak pro-poligini selanjutnya mengambil alasan tentang kejelasan nasab. Mereka akan mempertanyakan kejelasan nasab seorang anak yang lahir dari seorang ibu yang melakukan poliandri. Apakah poliandri bisa menjamin kejelasan nasab?

Pertanyaan ini dijawab oleh kubu anti-poligami dengan: “Ya, bisa. Anggapan bahwa poliandri akan mengacaukan nasab, sah saja jika diungkapkan pada 1400-an tahun yang lalu. Tetapi pernyataan itu tidak berlaku untuk saat ini! Teknologi terkini dapat mendeteksi DNA seseorang, sehingga dapat diketahui siapa bapaknya.”

“Berapa negara di dunia ini yang mampu menyelenggarakan tes DNA? Lagipula, pelacakan bapak seorang anak yang harus melalui tes DNA justru menunjukkan bahwa poliandri bukanlah proses yang alami,” balas kubu pro-poligini.

Dan seterusnya, dan seterusnya, sampai kita tidak tahu kapan kesudahannya. Karena perdebatan semacam itu melibatkan banyak aspek manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Sedangkan sampai sekarang, manusia sendiri belum ada yang berani mangaku telah mampu mengetahui aspek detil dirinya sendiri.
Penulis sendiri lebih sepakat jika pembahasan semacam itu dijadikan sampingan saja, bukan pokok. Pembahasan seperti iu hanyalah bunga yang akan menghiasi ‘kebun poligami’ setelah diketahui legal atau ilegalnya poligami dalam pandangan otoritas yang lebih tinggi dari manusia.

Aturan

Aturan dibuat untuk kemaslahatan umat manusia. Sebelum membuat aturan, pembuat aturan tentu harus lebih dulu mengetahui berbagai hal tentang kemaslahatan serta objek yang akan dibebani aturan tersebut. Kesempurnaan sebuah aturan akan ditentukan oleh seberapa paham sang pembuat aturan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan aturan yang akan diterapkannya.

Kemaslahatan yang sempurna akan diperoleh dari pelaksanaan peraturan yang sempurna. Untuk membuat peraturan yang sempurna, diperlukan juga pengetahuan yang sempurna. Sayangnya, manusia menghadapi kendala besar jika harus membuat peraturan yang sempurna (dalam mengurus manusia). Karena bagaimana mungkin dia dapat menghasilkan peraturan yang sempurna, sedangkan pengetahuannya tentang manusia itu sendiri sangat terbatas. Padahal, pada saat yang sama, manusia perlu meraih maslahat dalam kehidupannya.

Di sinilah sebetulnya manusia harus berterima kasih kepada Sang Pencipta, karena Dia telah berkenan menurunkan aturan-aturan-Nya bagi kemaslahatan umat manusia.

Meski manusia tidak memiliki pegetahuan yang memadai tentang manusia itu sendiri, namun ia tetap bisa mengecap maslahat karena telah diberikan aturan yang bersumber dari Zat yang ilmu-Nya meliputi segala zaman, mencakup semua tempat; universal.

Oleh karenanya, manusia tidak perlu lagi memaksakan diri untuk membuat aturan berdasarkan pengetahuannya yang lokal, temporal, dan tidak universal. Karena pengetahuan yang lokal, temporal, dan tidak universal tidak akan mampu menghasilkan peraturan yang universal. Jika demikian, maka kemaslahatan manusia tidak dapat tercapai.

Titah Ilahi

Allah Ta’ala adalah Zat Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana. Dia menghendaki agar manusia memperoleh maslahat serta kebaikan-kebaikan yang banyak. Dia tidak menghendaki manusia terjerumus dalam bahaya. Karenanya, Dia memerintahkan manusia unuk tunduk kepada-Nya sepenuh-penuhnya dalam setiap tindakan yang dilakukannya.

Dia berfirman:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut. Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (TQS. An Nisâ`: 60)

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (TQS. Al-Baqarah: 216)
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (TQS. Al-Maidah: 50)

Atau adakah kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu. Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari Kiamat; Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? (TQS. Al-Qalam: 36-39)

Berhakim Kepada Allah dan Rasul-Nya

Merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa ditawar-tawar untuk menempatkan bahasan poligami dalam kerangka hukum Islam. Karena kepatuhan tidak untuk siapa pun kecuali untuk Allah dan Rasul-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (TQS. An-Nisâ`[4]: 59)

Merupakan hal yang penting juga, menyingkirkan semua tendensi yang membuat pembacaan terhadap al-Qur`an tidak jernih lagi; agar kemurnian pemahaman terhadap al-Qur`an tetap terjaga.

Selanjutnya, siapapun berhak mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah memberi keputusan tentang poligami ini melalui firman-Nya:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (TQS. An-Nisâ`[4]: 3)

Allah Ta’ala juga berfirman:

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (TQS. An-Nisâ`[4]: 24)

Dengan hati lapang dan pemikiran yang jernih, mari masing-masing dari kita berinteraksi seraya menyelami undang-undang dalam ayat-ayat tersebut. Silakan masing-masing kemudian menilai dengan jujur, haramkah poligini, serta sahkah poliandri?

Tidak mengurangi kekhusyukan menyelami petuah Ilahi di atas, sedikit kutipan dari Buya Hamka yang mengomentari An-Nisâ`[4]: 24 dengan:

Sesudah Tuhan menjelaskan siapa perempuan-perempuan yang disebut mahram, yang tidak boleh dinikahi, karena bertali darah atau karena dipertalikan oleh air susu, atau karena mertua dan menantu, sekarang Tuhan menerangkan lagi perempuan yang tak boleh dikawini, bukan karena sebab mahram melainkan karena telah ada yang punya.

“…yang telah bersuami kita jadikan arti dari kalimat al-muħshanât. Arti asalnya ialah yang telah dibentengi. Sebab apabila seorang perempuan telah bersuami, berartilah bahwa dia telah dibentengi oleh perlindungan suaminya, sehingga orang tidak boleh masuk ke dalam lagi.”

Sedang untuk An-Nisâ`[4]: 3, telah banyak diulas dengan panjang lebar di berbagai media dan kesempatan. Sekedar memperjelas posisi, penulis cenderung kepada pendapat yang menyatakan poligini adalah mubah, bukan sunah, haram, apalagi wajib. Selamat menelaah lebih dalam.

Bi Allâh fî Sabîl al-Ħaqq

Fa-stabiqû al-Khayrât.

Sedayu, 1 Februari 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.798 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: