MASYARAKAT ISLAM

Setiap muslim mestilah merindukan terwujudnya sebuah masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, jika ia tidak sedang mempertanyakan keislamannya sendiri. Masyarakat Islam –tentu saja- bukan masyarakat sosialis seperti dicita-citakan kalangan Marxis, bukan pula masyarakat kapitalis seperti yang terwujud saat ini. Mayarakat Islam adalah masyarakat yang tegak di atas akidah Islam. Selanjutnya perlu ditambahkan bahwa itu tidak berarti masyarakat Islam adalah masyarakat yang memaksa non-muslim untuk memeluk Islam seperti dituduhkan orang-orang liberal.

Masyarakat bukan sekedar sekelompok individu yang berkumpul di suatu tempat. Pengertian masyarakat seperti ini khas Barat liberal yang indvidualistik. Pengertian sebenarnya dari masyarakat adalah akumulasi manusia, yang antar sesama mereka terdapat hubungan yang kontinyu. Masyarakat terbentuk berdasarkan kesamaan pemikiran, perasaan, dan sistem yang membentuk interaksi antar-individu.

Berdasarkan pengertian di atas, guna terwujudnya masyarakat Islam diperlukan upaya mendidik masyarakat dengan pemikiran, perasaan, dan sistem berdasarkan Islam. Untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, diperlukan upaya mendidik masyarakat dengan pemikiran Islam yang benar, perasaan yang benar, serta mewujudkan sistem yang benar berdasarkan Islam. Perlu dicatat, bahwa tidak ada masyarakat yang netral; bukan kapitalis, bukan sosialis, bukan Islam, dan buka-bukan yang lain. Sebab setiap masyarakat pasti memiliki corak tertentu. Lebih-lebih lagi jika dilihat dari sudut Islami atau tidaknya masyarakat itu.

Pemikiran yang diperlukan adalah pemikiran asasi yang merupakan pandangan dunia (worldview). Basis ontologi, epistemologi, serta aksiologi yang dibangun harus dilepaskan dari filsafat Barat yang membelenggu saat ini, dengan menggalinya dari sumber-sumber ajaran Islam sendiri.

Perasaan yang dibentuk di tengah-tengah umat juga harus perasaan yang Islami. Ini menentukan standar apa yang dijadikan alasan interaksi antar-individu. Jika Barat-kapitalis mengenal pragmatisme sebagai sistem nilai yang mendasari interaksi antar-individu di masyarakat, maka masyarakat Islam yang akan diwujudkan seharusnya membuang jauh-jauh paham yang terbukti mengalami inkonsistensi internal itu. Kaum Muslimin harus menggantinya dengan standar Rabbânî, yaitu hukum-hukum syara’: halal dan haram (atau lebih rinci: wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram).

Pemikiran maupun perasaan tidak akan terbentuk nyata dan sempurna apabila tidak ditopang oleh sistem yang sejalan. Karenanya, masyarakat Islam memerlukan sistem yang terpancar dari akidah Islam agar eksistetnsinya tetap lestari.

Sebuah sistem memerlukan orang-orang yang menjalankannya. Maka, keyakinan orang-orang tersebut tentang keunggulan Islam dibandingkan yang lain mutlak diperlukan. Sebab itulah, tidak mungkin masyarakat Islam bisa terwujud apabila rezim yang berkuasa tetaplah manusia-manusia kapitalis. Demikian juga, masyarakat Islam mustahil terwujud selama permainan yang dilakonkan oleh pemegang kebijakan adalah permainan yang sama sekali cocok dengan pandangan hidup kaum kapitalis-sekular. (Periksa relevansi pernyataan ini dengan, misalnya, penjelasan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar ketika menafsirkan surat al-An’âm ayat 151-153).

Wallâhu A’lam. Fa-stabiqûl Khayrât.

Shofhi Amhar

Kabid Hikmah IMM Komisariat Agama Islam UAD

Periode 2007-2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: