Merenungkan Daulat Manusia

Rendra

Dalam diri setiap manusia terkandung Kehendak Manusia dan Kehendak Alam. Beberapa bagian tubuh kita bisa kita kuasai gerak-geriknya menurut kehendak kita. Misalnya, kaki, tangan, lidah, selaput suara, mulut, bola mata, dan sebagainya. Tetapi beberapa bagian yang lain tidak bisa kita kuasai gerak-geriknya. Misalnya, jantung, usus, hati, dan sebagainya. Bagian-bagian yang tidak bisa dikuasai oleh kehendak manusia bisa dibudayakan; bagain yang tidak bisa dikuasai oleh manusia berjalan menurut alam. Jadi, dalam diri setiap manusia terkandung unsur alam dan unsur kebudayaan.

Di sepanjang sejarah, di seluruh dunia, persoalan yang slalu muncul adalah bagaimana orang menyelaraskan Kehendak Manusia dan Kehendak Alam dalam hidupnya. Atau dengan kata lain, manusia selalu terlibat di dalam masalah keselarasan antara Daulat Alam dan Daulat Manusia.

Pada permulaan tafar peradabannya, manusia merasa sangat jerih kepada Daulat Alam. Ia harus lahir, harus tua, dan akhirnya harus mati. Tidak bisa diupayakan untuk dicegah. Guntur bertalu-talu, ombak laut bergelora setinggi bukit, gunung meletus, topan badai mengganas. Semua tidak bisa dicegah. Orang merasa tidak berdaya terhadap Daulat Alam. Semakin orang tunduk dan menghormati Daulat Alam, semakin terjamin keamanan hidupnya. Pada akhirnya para pemuja Daulat Alam ini menciptakan tatanan masyaraka sesuai dengan keadaan alam. Di dalam alam tidak ada hak. Yng ada hanyalah kepastian-kepastian. Bahwa beringin itu beringin. Perdu itu perdu. Sayuran itu sayuran. Dan benalu itu benalu. Sayurang jangan bermimpi menjadi beringin. Demikian pula gajah itu gajah. Macan itu macan. Kijang itu kijang. Tikus itu tikus. Jangan tikus bermimpi bisa menjadi macan dan harus tetap berhati-hati dan tahu diri tehadap kucing. Akhirnya, alam pun sudah menetapkan: ada orang perkasa, ada orang lemah. Ada kakak, ada adik. Ada jagoan, ada orang biasa. Ada penguasa, ada rakyat yang dikuasai. Ada lelaki, ada perempuan. Ada ndoro, ada abdi. Dan semua orang masing-masing harus tahu kedudukannya. Tidak ada hak, yang ada hanya unggah-ungguh, tata cara menurut hirarki, yang harus dipatuhi agar tidak merusak harmoni hidup yang kerto raharjo, selamat sejahtera. Yang adik harus tahu kedudukannya terhadap kakak. Begitu juga wong cilik harus tahu kedudukannya terhadap ndoro-ndoro, sebab untuk selama-lamanya wong cilik itu tetap wong cilik, dan ndoro itu ndoro. Di dalam tatanan masyarakat seperti itu, Daulat Alam menjelma menjadi Daulat Tuanku. Kepala negara dalam masyarakat seperti itu mempunyai kedaulatan yang sama dengan kedaulatan penguasa alam semesta raya. Ya, karena ia memang dianggap sebagai wakil Tuhan di atas dunia. Sabdanya sakti. Harus dituruti. Asprasinya menjadi hukum dan aturan negeri. Segala sesuatu yang berada di wilayah kekuasaannya adalah miliknya. L’etat, c’est moi. Negara itu saya! Begitu kata Raja Louis XIV. Ratu Kang Murbeng Jagat, Raja yang Memiliki Dunia! Begitu Amangkurat I melukiskan dirinya.

Di dalam masyarakat seperti itu, patuh kepada unggah-ungguh adalah suci, bagaikan kewajiban dalam agama. Kenaikan derajat orang dalam lapisan sosial terjadi bukan karena hak prestasi tetapi karena “wahyu”, yaitu rahmat Tuhan yang sangat alami sifatnya. Kepatuhan adalah kunci keutamaan. Sebagaimana orang pasrah kepada Tuhan, begitulah orang pasrah kepada kepala negara dengan segenap daulat sabdanya. Daulat Manusia bersujud kepada Daulat Alam yang memanifestasikan dirinya sebagai Daulat Tuanku. Apabila rakyat atau abdi Raja hendak berkata sesuatu, ia harus membuka ucapannya dengan kalimat “Ampun beribu ampun” dan selanjutnya ia harus menyembah “Duli Kaki Tuanku”, Debu Kaki Tuanku.

Di dalam dunia pertanian sekalipun orang sedikit sekali melakukan intervensi terhadap jalannya alam. Orang tidak membuat bendungan, tetapi sekadar irigasi dan waduk, atau saluran (kanal). Dan di halaman rumahnya, orang tidak membuat taman melainkan membuat pekarangan. Taman itu punya rancangan, sedangkan pekarangan tidak punya rancangan, segalanya tumbuh begitu saja. Paling jauh di dalam pekarangan orang hanya berlaku “merapikan”, sedangkan aturan dasarnya paling sedikit sekali.

Di dalam mengelola lingkungan alam, orang-orang dari budaya Daulat Alam secara alamiah sangat bersifat ekosentris. Dan di dalam hidup sehari-harinya menyelaraskan diri dengan irama matahari. Mereka bekerja, melakukan kegiatan dan makan-minum selagi matahari muncul di atas jagat raya. Dan mereka pun tidur, bagaikan sayur mayur waktu matahari sudah tenggelam.

Tetapi Daulat Manusia itu bukan omong kosong. Daulat Manusia adalah unsur di dalam diri manusia yang tidak kalah kuatnya dengan Daulat Alam. Daulat Manusia adalah bagian dari unsur kewajaran dan keutuhan di dalam pribadi manusia. Dan karena manusia itu bukan batu, melainkan makhluk yang mempunyai daya hidup, maka lambat atau cepat ia akan selalu berusaha mencapai kewajaran dan keutuhan dirinya. Apalagi ia mempunyai nalar, budi, dan bahasa. Hal-hal tersebut menyebabkan ia berbeda dari hewan yang tunduk sama sekali kepada Daulat Alam, dan ia menganggap alam dan segenap rahasianya sebagai suatu tantangan untuk ditundukkan. Nalar dan budinya selalu mendorongnya mempertanyakan kembali rumusan-rumusan pemikiran orang-orang yang terdahulu, dan juga batas-batas dari pengetahuannya.

Akhirnya ia pun mempertanyakan kedudukan Daulat Manusianya dalam berhadapan dengan kekuasaan Daulat Tuanku. Haknya atas tanah yang ia garap, dan benda-benda yang ia peroleh berkat usaha dan jerih payahnya. Haknya dalam berpendapat dan dalam keterlibatannya dalam tata masyarakat. Begitu dan seterusnya sebagaimana dilukiskan dengan baik oleh Thomas Paine dalam bukunya Rights of Man.

Begitulah, melewati pergolakan-pergolakan politik di dunia barat, terutama melewati Revolusi Perancis, kesadaran akan Daulat Manusia melahirkan kesadaran akan Daulat Rakyat sebagai lawan dari Daulat Tuanku.

Ketika Rights of Man ditulis, bangsa kita masih hidup di bawah Daulat Alam dan Daulat Tuanku. Kesadaran akan Daulat Manusia hanya hadir di alam meditasi. Begitu keluar dari alam meditasi dan terjun ke masyarakat kembali, orang tertawan dalam mesin Daulat Alam yang tanpa perikemanusiaan.

Kiprah Dualat Manusia dan Daulat Rakyat yang melahirkan tatanana masyarakat baru, yang lebih militan mobilitas horisontal dan vertikalnya, pun lebih memberi kesempatan yang luas kepada bangsa untuk berorganisasi dan berkoordinasi dan juga melahirkan jaminan kepastian hidup bersama yang lebih bisa diperhitungkan dan diandalkan karena adanya kepastian hukum yang mandiri dari nafsu kekuasaan pemerintah. Maka pada akhirnya kiprah itu mampu menopang perkembangan filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang melahirkan teknologi dan perkembangan industri.

Kepastian hukum, sebagai hasil dari kiprah Daulat Rakyat, merangsang inisiatif dan daya usaha dalam masyarakat, sehingga masyarakat menjadi kaya akan sumber daya manusia. Kini, dalam menghadapi berbagai masalah di dunia, temasuk masalah dengan lingkungan alam, orang bersikap antroposentris. Kepentingan Daulat manusia menjadi pusat orientasi.

Daulat Manusia mendesakkan diri dengan dahsyat. Hampir tidak mengenal batas. Alam ditundukkan dan diolah sejadi-jadinya. Molekul dibelah menjadi atom, menjadi nuklir, sehingga melahirkan tenaga yang sukar dikendalikan, dan limbah yang mencemarkan dan merusak alam.

Daulat Manusia melahirkan paham liberalisme yang menuntut hak asasi manusia yang luas sekali dalam segala bidang. Globalisasi gerakan hippies adalah puncak dari eksperimen kebebasan hak-hak manusia. Free love. Free sex. Free expression.

Begitu tak membatasi hakl-hak seksnya, maka segenap saripati nafsu birahi yang terpendam diungkapkan: hasrat homoseksualisme, lesbianisme, biseksualisme. Seperti orang membelah-belah molekul menjadi atom dan nuklir, orang membelah-belah laku asmara sehingga menjadi seks murni yang lepas dari keutuhan kemanusiaan, lepas dari proses pergaulan yang mendalam antara pribadi dan pribadi. Dalam kepsatan peputaran seks semacam itu, aurat yang satu sama saja dengan aurat yang lain. Orgasme bukan lagi klimas dari pergaulan antarpribadi, tetapi sekadar batas dari kemampuan seks. Dimensi seks menjadi miskin dan karenanya lama kelamaan menjadi hambar dan tidak menarik lagi. Banyak anak muda dalam tingkat seperti ini menjadi impoten.

Free love, percintaan tanpa ikatan, menyebabkan kaburnya nukleus keluarga. Anak-anak yang lahir dalam keadaan seperti itu menjadi yatim piatu sepanjang hidupnya, seperti daun yang melayang-layang dalam angin, kehilangan sentuhan keunikan dari keterlibatan pergaulan yang berdasarkan ikatan darah, yang berarti ikatan alami. Padahal, ia terjerumus dalam situasi hidup seperti itu bukan karena pilihannya, tetapi karena pilihan ibu dan bapanya. Ia terjerembab dalam situasi murung yang ditimpakan kepadanya.

Kebebasan berekspresi didorong sejauh mungkin. Sampai-sampai pornografi harus diizinkan. Mendirikan Gereja Setan boleh. Dan mendirikan organisasi fasisme juga boleh. Orang berekspresi atau berpikir tidak lagi dengan pertimbangan kepentingan kesejahteraan. Iman tidak lagi penting.

Tanpa iman kepada Tuhan, tanpa pertimbangan akan pengadilan di akhirat, menyebabkan orang bertingkah polah tanpa rambu-rambu. Akibatnya, tabrakan-tabrakan dalam lalu lintas kehidupan bersama terjadi secara konyol. Tabrakan-tabrakan yang hanya berarti kecelakaan dalam kehidupan. Sebagai akibat dari lalu lintas kacau karena tanpa rambu-rambu.

Industri berjalan dengan kedahsyatan mesin yang tanpa perasaan. Menghasilkan produk benda-benda konsumen yang melimpah dan menguasai kehidupan manusia. Konsumen memberi produk bukan karena nilai keguanaannya, tetapi karena ia menginginkan berndera-bendera derajat, atau kedudukan di dalam masyarakat. Pakaian, makana, perabotan rumah tangga, kendaraan adalah bendera-bendera derajat yang sudah lepas dari keguanaan aslinya. Semuanya itu adalah produk dari mesin industri yang tidak boleh berhenti sebab time is money. Dan produk-produk itu dikemas dan ditawarkan kepada daftar impian yang ada di kepala para calon konsumen.

Pesawat-pesawat jet sudah dibikin dan terus menerus selalu dibikin. Lalu diciptakanlah yang tadinya tidak ada. Diciptakanlah tujuan-tujuan untuk penerbangan. Turisme dikembangakan. Masa libur para pekerjat harus bisa direbut oleh maskapai penerbangan. Bali harus diringkas, dikemas dalam kertas kado, sehingga bisa disuguhkan kepada para pelancong. Upacara di pura, kesenian-kesenian ritual, dikemas secara necis dan praktis sehingga menjadi objek pariwisata. Lalu terjadilah erosi kebudayaan ataupun polusi kebudayaan. Kehidupan spiritual mengalami pendangkalan.

Pada akhirnya, Daulat Industri muncul sebagai kedaulatan baru yang menantang Daulat Manusia.

Ternyata antroposentirmse maupun ekosentrisme bisa saling membahayakan keutuhan kemanusiaan. Untuk menciptakan keseimbangan antara Daulat Manusia dan Daulat Alam, kita harus berorientasi kepada Kehendak Sang Pencipta Manusia dan Sang Pencipta Alam. Karena hanya Sang maha Pencipta sendirilah yang paling tahu syari’at hidup yang tepat yang bisa mendamaikan keseimbangan kepentingan antara Daulat Manusia dan Daulat Alam dalam diri umat manusia.

(Merupakan Kata Pengantar WS Rendra untuk buku “Daulat Manusia” yang adalah terjemahan dari The Rights of Man karya Thomas Paine. Diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Jakarta, 2000)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: