BAGAIMANA MENDIRIKAN NEGARA ISLAM

Assalaamu’alaikum.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Berikut adalah salah satu bagian dari buku “Sistem Pemerintahan Islam”, yang merupakan terjemahan karya Syaikh Taqyuddin al-Nabhani -rahimahullaah. Bagian ini memaparkan bagaimana upaya mendirikan sebuah negara Islam menjadi hal yang niscaya.

BAGAIMANA MENDIRIKAN NEGARA ISLAM

Sesungguhnya kekuatan pemikiran Islam yang terikat dengan tata operasinya (thariqah) cukup untuk mendirikan Negara Islam dan mewujudkan kehidupan yang islami. Jika pikiran ini telah meresap ke dalam hati, merasuk dalam jiwa, dan memfisik di tengah umat Islam, maka pikiran itu akan menjadikan Islam hidup yang bekerja di tengah kehidupan. Akan tetapi, sebelum mendirikan Negara Islam, kerja besar ini harus disempurnakan dan perjuangan keras harus dicurahkan dengan segenap tenaga demi terwujudnya kehidupan yang islami.

Oleh karena itu, untuk menjadikan Negara Islam berdiri tidak cukup dilakukan dengan hanya kesenangan dan harapan; tidak cukup dengan semangat dan cita-cita mewujudkan kehidupan Islam. Ada satu hal yang paling penting dan harus dilaksanakan, yaitu membuat hipotesa yang tepat tentang kendala-kendala besar yang menghadang gerak Islam. Hipotesa ini dibuat sejauh mana kemungkinan umat Islam mampu menghilangkannya.

Umat Islam juga harus diingatkan tentang beratnya konsekwensi yang selalu mengincar orang-orang yang membangkitkan Islam untuk tujuan ini. Pandangan para pemikir harus diarahkan dengan pandangan khusus menuju tanggung jawab maha besar. Setiap pemikir memberikan sumbangan pemikiran tentang masalah yang sama. Sehingga, ucapan dan tindakan berjalan seiring di jalan yang sama dengan penuh kesadaran, kehendak, kepastian, dan kedinamisan. Orang-orang yang berjalan di jalan yang memperjuangkan perwujudan kehidupan Islam adalah orang-orang yang memahat jalan di batu padas yang sangat keras. Akan tetapi, dengan adanya cangkul mereka yang tajam dan besar, maka itu menjadi jaminan yang, insyaallah, mampu memecahkan batu padas. Mereka adalah orang-orang yang berjuang menyelesaikan persoalan yang sangat rumit. Akan tetapi, karena adanya kelembutan dan kejelian mereka, maka demikian itu menjadi jaminan kebaikan pemecahan persoalan itu. Mereka adalah orang-orang yang bertabrakan dengan peristiwa-peristiwa besar, akan tetapi mereka, insyaallah, akan mampu mengalahkannya dan mereka tidak akan menyimpang dari jalan mereka. Karena, jalan yang ditempuh adalah jalan yang pernah dilalui Rasul. Mereka merambah jalan yang lurus yang akan memberikan hasil yang pasti dan tidak ada keraguan di dalamnya. Kemenangan pasti terwujud dan tidak ada keraguan di dalamnya. Jalan ini adalah jalan yang sekarang ini harus dilalui kaum muslimin dengan sangat hati-hati. Dalam melangkahkan kakinya harus meneladani Rasul dengan tepat dan berjalan lurus sesuai dengan ayunan langkah-langkah beliau, sehingga jalan pengemban dakwah tidak terpeleset. Mengapa? Karena setiap kesalahan dalam analogi dan setiap penyimpangan jalan akan menyebabkan ketergelinciran dalam berjalan dan sakit dalam berbuat.

Oleh karena itu, mengadakan muktamar-muktamar tentang khilafah bukanlah jalan yang dapat mengantarkan pada pembentukan Negara Islam. Upaya menyatukan negara-negara bangsa yang memerintah bangsa-bangsa Islam bukanlah sarana yang menjadikan Negara Islam. Piagam atau deklarasi yang dikeluarkan oleh berbagai muktamar bangsa-bangsa Islam bukanlah bentuk perwujudan yang mampu menciptakan kehidupan yang islami. Semua itu dan yang sejenisnya bukanlah jalan (thariqah). Itu hanyalah hiburan-hiburan yang sedikit menyegarkan jiwa kaum muslimin, lalu semangat muktamar itu lambat laun menjadi kosong (padam) dan setelah itu duduk-duduk santai tanpa melakukan aktifitas nyata. Lebih dari itu, semuanya adalah jalan yang bertentangan dengan thariqah Islam.

Jalan (thariqah atau tata laksana) satu-satunya untuk mendirikan Negara Islam hanyalah mengemban dakwah Islam dan berbuat nyata dalam upaya mewujudkan kehidupan yang islami. Demikian ini menuntut pembentukan Negara Islam menjadi satu kesatuan yang utuh. Karena, umat Islam adalah satu. Mereka adalah kumpulan kemanusian (manusia yang berkemanusiaan Islam) yang disatukan oleh akidah yang satu yang darinya sistem Negara Islam memancar. Oleh karena itu, peristiwa apapun yang terjadi di wilayah manapun dalam lingkup Negara Islam akan berpengaruh pada wilayah-wilayah Islam lainnya. Demikian itu akan mengobarkan perasaan dan pemikiran. Karena itu, seluruh Negara Islam harus dijadikan satu negara dan mengemban dakwahnya untuk seluruhnya sehingga berpengaruh pada keseluruhan wilayah Negara Islam. Demikian itu karena masyarakat yang satu yang membentuk kesatuan umat adalah seperti air dalam periuk. Jika Anda meletakkan api di bawah periuk itu sehingga memanaskan air sampai mencapai derajat yang mendidih, kemudian air yang mendidih ini berubah menjadi uap yang mendorong-dorong tutup periuk dan menciptakan gerakan dorongan, maka demikian pula halnya dengan masyarakat jika di bawahnya diletakkan mabda’ Islam (ideologi Islam diasosiasikan sebagai api). Panas api mabda’ menimbulkan panas, kemudian mendidih, dan akhirnya panas yang mendidih itu berubah menjadi sesuatu yang mendorong masyarakat melakukan gerakan dan perbuatan. Oleh sebab itu, dakwah harus dibangkitkan dan didakwahkan ke dunia Islam untuk dipakai melaksanakan perwujudan kehidupan yang islami. Langkah ini bisa dilakukan dengan penerbitan buku-buku, risalah-risalah (jurnal-jurnal dan artikel-artikel), menjalin hubungan-hubungan, dan semua sarana dakwah, apalagi membentuk jalinan hubungan-hubungan, karena posisinya merupakan jalan dakwah yang paling sukses. Penyampaian dakwah dengan bentuk yang terbuka akan menjadi bara yang membakar masyarakat, sehingga kebekuan menjadi panas yang membara. Tidak mungkin mengubah panas yang mendidih menjadi gerakan kecuali jika dakwah bilhal dalam arah politiknya difokuskan pada aktifitas nyata di satu wilayah atau beberapa wilayah yang darinya aktifitas dakwah dimulai. Kemudian satu atau beberapa wilayah dijadikan titik sentral yang di atas wilayah itu Negara Islam didirikan. Dari titik itu tumbuh, kemudian membentuk Negara Islam yang besar yang mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

Ini persis dengan yang dilakukan Rasulullah saw. Beliau menyampaikan dakwahnya ke seluruh manusia. Langkah-langkah penyampaiannya berjalan di jalan aktifitas nyata. Beliau mengajak penduduk Makkah dan seluruh bangsa Arab di musim haji. Dakwahnya kemudian tersebar ke seluruh penjuru Jazirah. Seakan-akan beliau menciptakan bara di bawah “periuk” masyarakat Jazirah sehingga membangkitkan panas di seluruh bangsa Arab. Islam mengundang bangsa Arab melalui Rasul. Beliau menjalin hubungan dengan mereka dan berdakwah pada mereka di musim haji. Kepergian beliau ke kabilah-kabilah di rumah-rumah mereka dan mendakwahi mereka adalah untuk Islam. Seperti demikianlah gambaran dakwah yang sampai ke seluruh Arab. Sampainya dengan gesekan yang terjadi antara Rasul dan kaum Quraisy ketika terjadi benturan keras sampai gaungnya memenuhi pendengaran bangsa Arab. Ledakan benturan itu membangkitkan mereka untuk mempelajari dan bertanya-tanya. Gaung penyebaran dakwah sudah menyebar ke seluruh Arab meski medan dakwah masih terbatas di Makkah. Kemudian beliau melebarkan sayap dakwahnya ke Madinah sehingga terbentuk Negara Islam di Hijaz. Ketika itu api dakwah dan kemenangan Rasul berhasil mendidihkan bangsa Arab, kemudian timbul gerakan, lalu mereka beriman seluruhnya sampai Negara Islam meluas mencakup seluruh wilayah Jazirah Arab dan mengemban risalahnya ke seluruh alam.

Oleh karena itu, pengembanan dakwah Islam dan aktifitas nyata perwujudan kehidupan yang islami harus kita jadikan thariqah untuk mendirikan Negara Islam. Kita juga harus menggabungkan seluruh Negara Islam menjadi satu negara dan tujuan dakwah. Hanya saja kita harus memperhatikan satu hal yang sangat penting, yaitu membatasi medan aktifitas dakwah di satu wilayah atau beberapa wilayah yang di dalamnya kita membina manusia dengan Islam sehingga Islam hidup dalam diri mereka dan mereka hidup dengan dan demi Islam. Dalam wilayah itu pula kita membentuk kesadaran umum atas dasar Islam dan opini umum untuk Islam, sehingga terjadi dialog antara pengemban dakwah dan masyarakat dengan dialog yang menghasilkan perbuatan yang berpengaruh mengubah dakwah menjadi dakwah yang interaktif (tafaa’ul) dan produktif. Tafaa’ul ini adalah gerakan dakwah yang operasinya langsung berhadap-hadapan dengan musuh dan berdiri tegak dalam upaya mewujudkan Negara Islam yang memancar dari umat dalam wilayah atau beberapa wilayah majal (pusat gerakan). Ketika itu dakwah telah berjalan dari tahapan pemikiran yang sudah terbentuk dalam benak menuju wujud kongkrit aktifitas di tengah masyarakat, dari gerakan kebangsaan menuju Negara Islam. Putaran-putaran gerakan ini telah lewat, lalu beralih dari satu titik awal ke titik tolak, kemudian beralih ke titik sentral yang unsur-unsur negara dan kekuatan dakwah memusat dalam negara yang sempurna. Ketika itu tahapan aktifitas dakwah kongkrit yang diwajibkan syara’ atas negara mulai dilaksanakan. Begitu juga kaum muslimin yang hidup di wilayah-wilayah yang belum masuk wilayah kekuasaan negara juga mulai diwajibkan syara’ untuk menjalankan aktifitas dakwah nyata ini.

Adapun kewajiban negara adalah menjalankan pemerintahan dengan hukum-hukum yang diturunkan Allah secara total. Kemudian negara menyatukan wilayah-wilayah lainnya atau menyatukan negara dengan wilayah-wilayah baru sebagai bagian dari politik dalam negeri Negara Islam, lalu negara mengurusi pengembanan dakwah dan berbagai tuntutan untuk mewujudkan kehidupan yang islami di seluruh wilayah Islam, apalagi wilayah yang berdekatan dengan Negara Islam. Kemudian negara menghapus undang-undang politik bikinan penjajah di wilayah-wilayah baru itu dan menjadikan para penguasa wilayah yang pro dengan negara sebagai penjaga undang-undang politik negara. Oleh karena itu, negara harus menetapkan undang-undang ini meski wilayah yang bertetangga dengan negara tidak menetapkannya, lalu menetapkan pembubuhan tanda bukti pengesahan, pusat-pusat perpajakan, dan membuka pintu-pintunya untuk seluruh penduduk wilayah yang islami itu. Dengan demikian, negara menjadikan seluruh orang yang tinggal di wilayah-wilayah yang islami merasa bahwa negara ini adalah Negara Islam dan mereka melihat langsung penerapan dan pelaksanaan Islam.

Adapun kewajiban kaum muslimin adalah bekerja (berjuang) agar negara (Negara Islam) menjadikan wilayah yang tidak menerapkan Islam dan yang dikatagorikan Daru Kufrun menjadi Daru Islam. Pengubahan dilakukan dengan perbuatan nyata yang mengikuti rumusan anyaman Negara Islam dengan dakwah dan berbagai tuntutan. Dengan ini, masyarakat di dunia Islam di seluruh wilayahnya menjadi bergolak sehingga mendorongnya menuju gerakan yang benar yang dengannya seluruh kaum muslimin dapat disatukan dalam satu negara. Dengan demikian pula, Negara Islam yang besar dapat diwujudkan. Dengan ini pula, Negara Islam yang memerankan qiyadah fikriah (kepemimpinan pemikiran) dunia dapat dibentuk. Negara memiliki kedudukan yang penting dan pusat gerakan yang memungkinkannya mengemban dakwah dan menyelamatkan dunia dari kerusakan.

Jika umat Islam dahulu di negara tidak melampaui (menyerang) Jazirah Arab dan jumlahnya tidak bertambah dari beberapa juta, dan bersama itu ketika umat-umat memeluk Islam dan mengemban dakwah yang membentuk kekuatan dunia di hadapan dua pasukan adidaya pada zaman itu dan memukul keduanya secara bersamaan dan menguasai keduanya serta menyebarkan Islam di kebanyakan bagian-bagian wilayah yang diperintah pada waktu itu, maka bagaimana keadaan kita umat Islam saat ini? Umat Islam dewasa ini berjumlah satu milyar (1000 juta) jiwa yang tersebar di negara-negara bangsa yang geografisnya saling menyambung sehingga seolah-olah satu negara, dari Morakisy hingga ke India dan Indonesia. Mereka menempati sebaik-baik wilayah bumi, baik dari segi kekayaan alamnya maupun letak geografisnya yang strategis dan terkonsentrasi dalam kesatuan wilayah. Mereka juga mengemban satu-satunya mabda’ yang terbaik. Maka tidak ragu lagi, potensi dan fakta yang demikian mempesona ini dapat membentuk (menjelmakan) umat menjadi kelompok yang paling kuat daripada negara-negara besar manapun dalam segala hal.

Oleh karena itu, wajib atas semua umat Islam semenjak sekarang berjuang untuk mewujudkan Negara Islam yang besar yang mengemban risalah Islam ke seluruh alam dan mengawali perjuangannya ini dengan mengemban dakwah Islam dan bekerja untuk mewujudkan kehidupan yang islami di seluruh wilayah Negara Islam, memfokuskan (memusatkan) daerah majalnya di satu atau beberapa wilayah untuk dijadikan titik sentral gerakan sehingga dapat memulai aktifitas yang membawa faidah. Contoh gambaran tujuan yang sangat besar ini yang mengharuskan tiap muslim mengarahkan tujuan hidupnya ke sana, dengan berjalan di jalan aktifitas yang jelas ini yang memang diharuskan berjalan di atasnya, sudah pasti di jalan itu, dia akan memikul semua kesulitan, mencurahkan segala perjuangan untuknya, dan berjalan dengan berpasrah pada Allah, tidak mencari apapun atas hal itu selain untuk memperoleh ridha Allah.

3 responses to this post.

  1. Posted by dira on 02/07/2009 at 06:38

    Udah baca buku “Ilusi Negara Islam”..?
    Seprtinya asik dibaca, lalu dibandingkan dg buku ini..🙂

    Balas

    • Posted by amhari on 02/07/2009 at 06:59

      belum sih. ketika ada berita para penelitinya menghujat buku tersebut, saya sudah malas dulu membacanya. lagi pula saya tidak yakin menemukan argumentasi bermutu di dalamnya mengenai mengapa negara Islam disebut “ilusi”.

      Balas

  2. Posted by amhari on 21/06/2012 at 09:24

    atau barangkali mas dira punya argumentasi yang hebat mengapa negara islam disebut ilusi? let’s see.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: