Adil (Rekaman Diskusi pak Donny Dadang dan ustadz Nidlol Masyhud)

Assalâm ‘alaikum…

Bismillâh walhamdul lillâh washshalâtu wassalâmu ‘alâ Rasûlillâh..

Ammâ ba’d.

Berikut ini adalah rekaman diskusi antara pak Donny Dadang dengan ustadz Nidlol Masyhud di milis [evolusi] tentang ADIL.

Semoga bermanfaat.

+++++++

Adil = Proporsional was Cerita (was Re: PARADIGMA ISLAM TERHADAP PENCIPTAAN)

Donny Dadang:

Mas Nidlol,

Jawabannya simpel mas, jelas TIDAK ADIL bagi karakter2 di dalam film tersebut.

Karena sesungguhnya kehendak bebas karakter itu TIDAK ADA, walaupun karakter merasa bebas, tapi kebebasannya itu mandul, dia sesungguhnya tidak bisa memilih apapun karena sudah ditentukan.

Sekarang gini, misalnya mas Nidlol memang sudah ditakdirkan masuk neraka, walaupun hari ini mas Nidlol adalah muslim yang sempurna.
Tapi malang, di skenario takdir yang sudah dituliskan mas Nidlol bakal bakal disiksa, dibakar, diburaikan isi perut, dirajam selamanya, karena memang sudah diplot di akhir hidup kelak mas Nidlol akan menjadi Atheis. Jadi apapun yang mas Nidlol lakukan hari ini, sebelumnya dan nanti, akhirnya tidak akan berakhir lain, mas Nidlol akan mati sebagai Atheis dan masuk neraka kekal.

Adil tidak ?

Itu satu. Yang kedua, adil ga sih, kejahatan yang finite dibalas dengan siksa yang infinite ?

Silahkan jawab dengan hati yang jujur.

Salam.
M. Adang

Nidlol Masyhud:

Sebelum saya jawab kedua pertanyaan ini,

Silakan jawab dulu pertanyaan saya kemarin:

“Apa definisi Kang Donny untuk istilah ADIL itu?”

Salam,
Nidhol

Donny Dadang:

Mas Nidlol,

Sifat adil dalam konteks ini kurang lebih bisa dideskripsikan sebagai: “Tidak Pilih Kasih”. dan bagaimana definisinya menurut mas Nidlol ?

Best Regards,
Donny

Nidlol Masyhud:

Wah, Kang.. Kalo ADIL itu = TIDAK PILIH KASIH,
Ga ada dong keadilan sejati di Dunia.
Kalo adil itu ga pilih kasih, lantas apa lawan dari adil itu?
Definisi ADIL saya sudah sering saya tuliskan kemarin. Nih lagi:
ADIL : memperlakukan sesuatu sesuai proporsinya (melalui proses yang tepat)

Donny Dadang:

Mas Nidlol yang baik,

Bisa jadi tidak ada ‘keadilan sejati’ di dunia. Kenapa harus ada ? Kalau memang tidak ada, ya so be it. Lawan dari adil dalam konteks ini ya “PILIH KASIH”

Saya juga pernah berpikir adil = sesuai proporsi, tapi saya pikir ada masalah dengan mengatakan adil = proporsional.

Contoh:
1. AA Gym punya istri dua. Yang satu kurang bisa melayani, yang satu karena lebih muda bisa lebih melayani. Apakah uang belanja yang AA Gym berikan harus proporsional terhadap tingkat pelayanan istrinya itu? Jadi yang melayani lebih baik dapat uang belanja lebih dari yang tidak melayani. Apakah adil seperti itu?

2. Anak saya 2, yang satu gemar jajan dan beli mainan, yang satu gemar menabung. Apakah adil jika saya berikan uang jajan yang berbeda ?

3. Warga negara indonesia ada 200+ juta. Masing2 mendapat hak satu suara dalam pemilu presiden. Padahal kontribusi orang2 itu terhadap negara berlainan ada yang menghasilkan devisa masuk tinggi, ada yang malah buang2 devisa. Apakah adil jika semua orang dapat hak satu suara, tidak lebih tidak kurang dari orang yang lain?

kata kuncinya: “proporsional” tapi proporsional terhadap apa ?

Kriteria apa yang bisa masuk dalam hitungan “proporsional” itu ? Contohnya untuk polygami: harus adil, adil = proporsional. Jadi yang bisa masuk perhitungan: Apakah kualitas pelayanan istri ? Apakah mana yang jago masak? Kecantikannya ? Ibadahnya ? dllsb.

Mas Nidlol tidak perlu jawab. Karena setiap orang bisa menentukan mana yang layak masuk perhitungan atau tidak, walaupun sama2 berpegang adil = proporsional.

Best Regards,
Donny

Nidlol Masyhud:

Nah, kalau begini jelas.

– ADIL dalam terminologi Anda : TIDAK PILIH KASIH
– ADIL dalam terminologi saya dan Umat Islam : PROPORSIONAL

Sebetulnya definisi “tidak pilih kasih” itu masih kurang gamblang. Tapi saya akan memahaminya sebagai “tidak membeda-bedakan obyek” atau “tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap obyek apapun” (Koreksi jika memang bukan ini yang Anda maksudkan).

Kalau mengikuti definisi Anda ini, ya Tentu saja Tuhan itu dalam terminologi Anda ini ya tidak adil (mengikuti definisi Anda). Bahkan boleh dikata, sama sekali tidak ada keadilan di Dunia (kalau mengikuti terminologi Anda ini). Sebab jelas-jelas Tuhan itu membedakan perlakuan antara kepada Iblis dengan kepada Malaikat. Tuhan juga membedakan porsi kasih sayang antara kepada Muhammad saw. Dengan kepada Abu Lahab. Tuhan membedakan pemberian antara kepada mukmin tulus dengan kepada penjahat gaek. Bahkan sejak awal, Tuhan juga memberikan path skenario yang tidak sama antara kepada satu orang dengan orang yang lainnya.

Dalam kehidupan manusia pun demikian. Kita memperlakukan buah mangga tidak sama dengan kita memperlakukan buah kudu, padahal sama-sama buah. Kita memperlakukan buah mangga pun tidak sama dengan kita memperlakukan pisau, padahal sama-sama benda. Kita memperlakukan ayah-ibupun tidak sama dengan memperlakukan tetangga, padahal sama-sama manusia dan sama-sama sudah sepuh. Porsi kasih sayang kita kepada satu orang pun berbeda dengan kepada orang yang lainnya. Artinya, kita selalu ‘pilih kasih’. Sikap kita terhadap tamu juga berbeda dengan sikap kita terhadap pengamen.

Tapi tentu saja, bukan itu definisi ADIL yang dimaksudkan oleh Orang Beriman. Definisi ADIL yang disebutkan dalam Al-Quran juga bukan itu. Jadi ketika Islam menyatakan “Allah Maha Adil”, maksudnya bukan “Allah tak pilih kasih”. Jadi salah kaprah kalau kemudian kita menganggap statemen ini kontradiksi sementara yang kita jadikan acuan definisi untuk ADIL dalam statemen itu justru bukan definisi yang dimaksudkan oleh para pengucapnya. Dalam buku-buku keislaman para Ulama, ADIL selalu didefinisikan sebagai “wadl`u’sy syai’i mawdli`ahu” (menempatkan sesuatu pada proporsinya) atau “i`thaa’u kulli dzii
haqqin haqqahu” (menunaikan hak semua obyek). Jadi ketika mereka mengatakan “Allah Maha Adil” atau “Islam memerintahkan penegakan keadilan”, definisi inilah yang dijadikan acuannya. Jadi salah kaprah belaka kalau kita membantahnya menggunakan definisi buatan kita sendiri, sebab bukan itu yang mereka maksudkan.

Coba perhatikan statemen-statemen Allah Ta’ala berikut ini:

– “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.”
(Q.S. Al-Qashash: 68)

Jadi dalam penciptaan-Nya, Tuhan tidak menjadikan semua makhluk-Nya itu sama persis. Tapi ada yang dipilihnya lebih di atas yang lain. Dalam terminologi Anda, ini disebut “pilih kasih”.

– “Kami melebihkan sebahagian buah-buahan itu atas sebahagian yang
lain tentang rasanya.” (Q.S. Ar-Ra`d: 4)
– “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam (manusia), Kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari
yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna
atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Israa’: 70)
– “Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain
dalam hal rezeki” (An-Nahl: 71)

Beberapa buah diberi kelebihan rasa dibanding yang lain. Manusia juga diberi beberapa kelebihan dibanding hewan dan tumbuhan. Bahkan sesama manusia, juga ada perbedaan pemberian rizki dan karunia. Dalam terminologi Anda, ini disebut “pilih kasih”.

– “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah
menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan
Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain
beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan
sebahagian yang lain.” (Q.S. Az-Zukhruf: 32)

Jadi salah satu hikmah pembedaan rizki dan karunia ini adalah agar ada saling pemanfaatan dan kerjasama antara sesama manusia. Dimana yang satu jadi bos dan yang lain jadi staf, yang satu jadi konsumen dan yang lain jadi penjual, yang satu jadi majikan dan yang lain jadi karyawan. Dalam terminologi Anda, ini disebut “pilih kasih”.

– “Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di
bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas
sebagian (yang lain), dan kami berikan Zabur (kepada) Daud.” (Q.S.
Al-Israa’: 55)
– “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang
lain.” (Q.S. Al-Baqarah: 253)

Jadi bahkan antara sesama nabi dan rasul saja, Allah memberikan porsi kenikmatan dan karunia yang berjenjang serta tidak sama rata. Dalam terminologi Anda, ini disebut “pilih kasih”.

– “Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu
Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu
tidak dapat dihalangi * Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian
dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat
lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (Q.S.
Al-Israa’: 20-21)

Semua golongan itu sama-sama diberikan kemurahan dan karunia. Tapi tentu saja porsinya tidak sama. Ada yang diberi sekedarnya, dan ada yang diberi dalam porsi yang melimpah. Dalam terminologi Anda, ini disebut “pilih kasih”.

– “Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi)
rahmat-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Q.S. Al-Baqarah:
105)
– “Katakanlah: ‘Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah
memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui'” (Q.S. Ali `Imran: 73)

Jadi “pilih kasih”-Nya Tuhan itu adalah semata-mata atas dasar “pengetahuan Tuhan”. Pengetahuan bahwa si A ini selayaknya diberi porsi sekian, si B sekian, dan si C sekian. pengetahuan bahwa si A ini layaknya diskenariokan sebagai protagonis, di B sebagai antagonis, si C semula jahat tapi kemudian tobat sehingga berakhir happy ending, dan si D semula baik tapi kemudian terlena sehingga berakhir dengan jelek.

Singkat kata, definisi ADIL yang dimaksudkan oleh Kitab Suci dan Kaum Beriman adalah “proporsional”. Dan itu sama sekali tidak kontradiktif dengan “pembedaan karunia” (atau dalam bahasa Anda: “pilih kasih”).

Nah, siapa yang menentukan proporsi masing-masing makhluk?

Ya tentu saja: SANG PENCIPTA.

Sebagaimana yang menentukan proporsi Tom dan proporsi Jerry adalah Hanna & Barberra, sang Sutradara. Ini ilustrasi sekaligus ‘Analogi Menanjak’ (sebut saja: “Logika Teleologis”).

Menyoal tiga contoh yang Anda sebutkan:

1. Jika pemberian uang belanja adalah “kompensasi atas tingkat layanan”, maka pemberian dari Aa Gym harus memperhatikan tingkat layanan masing2 istrinya. Tapi jika pemberian uang belanja itu adalah “hak dasar” yang harus diterima istri tanpa terkait dengan “tingkat pelayanan”, maka Aa Gym harus memberikannya secara merata apapun tingkat layanan istrinya tersebut. Baru kemudian kalau sang istri tidak memberikan tingkat layanan yang sesuai, maka Aa Gym berhak untuk menghukumnya dan berkewajiban untuk memperbaikinya. Seperti saya bilang sebelumnya, PROPORSIONALITAS itu butuh ACUAN REFERENSI.

2. Jika dalam Agama Anda, uang jajan itu merupakan “hak asasi” seorang anak tanpa melihat penggunaannya, maka Anda tidak adil jika membeda-bedakan uang jajan mereka karena perbedaan penggunaan. Tapi jika dalam Agama Anda, uang jajan itu merupakan kompensasi untuk manfaat penggunaan, maka tidak adil jika Anda memberikan uang jajan yang sama untuk dua anak yang membedakan penyalurannya itu. Seperti saya bilang sebelumnya, PROPORSIONALITAS itu butuh ACUAN REFERENSI.

3. Jika “hak memberikan suara” itu adalah “kompensasi untuk kontribusi terhadap negara”, maka tidaklah adil kalau setiap orang mendapatkan porsi yang sama dalam penyaluran suaranya. Tapi jika “hak membeirkan suara” itu adalah “hak asasi” setia warga tanpa memandang kontribusinya, maka jelas tidak adil kalau ada pembedaan-pembedaan dalam pemberian hak suara.

Begitu juga dalam soal TAKDIR. Jika hidup, punya organ lengkap, dapat rejeki banyak, dapat jodoh mantap, dapat lingkungan yang baik, dapat bimbingan keimanan, dapat husnul khatimah, dapat kecemerlangan hati, dapat intelek yang cerdas, dapat nikmat di Syurga, dst. itu adalah “hak dasar” setiap manusia tanpa perbedaan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, maka tidaklah adil jika Tuhan menciptakan manusia saling berjenjang tingkat “dapat karunia”-nya. Tapi ini jelas-jelas salah kaprah. Sebab status dasar manusia itu adalah “nothing”. Status dasar manusia itu adalah “tidak punya apa-apa”. Status dasar manusia itu adalah “tidak berhak mendapatkan apa-apa”. Jadi batas minimal KEADILAN TUHAN itu adalah “tidak memberikan apapun kepada manusia”. Tidak memberikan hidup, tidak memberikan organ, tidak memberikan rizki, tidak memberikan jodoh, tidak memberikan lingkungan, tidak memberikan keimanan, tidak memberikan happy ending, tidak memberikan kesehatan jiwa, tidak memberikan kecerdasan fikiran, tidak memberikan kenikmatan apapun baik di Dunia maupun di Akhirat.

Itulah batasan minimalnya untuk manusia. Sebab manusia memang pada dasarnya tidak memiliki hak apa-apa. Bahkan karakter awal penciptaan manusia itu adalah “tercipta dalam kondisi negatif”. Coba perhatikan informasi-informasi dari Penciptanya berikut ini:

– “Sesungguhnya manusia itu, (pada dasarnya) sangat lalim dan sangat
mengingkari nikmat” (Q.S. Ibrahim: 34)
– “Dan adalah manusia itu (pada dasarnya) bersifat tergesa-gesa.”
(Q.S. Al-Israa’: 11)
– “Dan manusia itu (pada dasarnya) adalah selalu tidak berterima
kasih.” (Q.S. Al-Israa’: 67). Juga Q.S. Al-Hajj: 16. Q.S. `Abasa: 17,
dan Q.S. Az-Zukhruf: 15
– “Dan adalah manusia itu (pada dasarnya) sangatlah kikir.” (Q.S.
Al-Israa’: 100)
– “Dan manusia (pada dasarnya) adalah makhluk yang paling banyak
membantah.” (Q.S. Al-Kahf: 54)
– “Sesungguhnya manusia itu (pada dasarnya) amatlah lalim dan amatlah
bodoh.” (Q.S. Al-Ahzaab: 72)
– “Sesungguhnya manusia itu (pada dasarnya) sangat ingkar sehingga
tidak berterima kasih kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-`Aadiyaat: 6).
– “Dan sesungguhnya manusia itu (pada dasarnya) sangat cinta dengan
harta benda.” (Q.S. Al-`Aadiyaat: 8)
– “Sesungguhnya manusia itu (pada dasarnya) benar-benar berada dalam
kerugian.” (Q.S. Al-`Ashr: 2)
– “Sesungguhnya manusia (pada dasarnya) diciptakan dalam keadaan
bersifat keluh kesah lagi kikir * Apabila ia ditimpa kesusahan ia
berkeluh kesah * dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.”
(Q.S. Al-Ma`aarij: 19-21)

Jadi memang manusia itu tercipta dalam kondisi yang negatif. Maka segala macma kenikmatan material, intelektual, spiritual, status sosial, maupun kenikmatan iman, hidayah, taufiq, petunjuk, dan kesuksesan Dunia Akhirat adalah semata-mata KARUNIA TUHAN yang LEBIH DARI SEKEDAR KEADILAN. Makanya, Islam tidak hanya mengenal Tuhan sebagai “Yang Maha ADIL”, tapi juga “Yang Maha PEMURAH”. Gabungan dari dua atribut ini adalah: “Yang Maha BIJAKSANA”.

Sudah jelas…?
Begitulah perspektif Islam dalam mendeskripsikan Takdir dan Keadilan.

Salam,
Nidhol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: