Kitab Walimah dan Binâ` ‘Consummate (Mencampuri)’ Para Istri dan ‘Isyrah ‘Bergaul’ dengan Mereka. Bab Disukainya Walimah dengan Seekor Kambing atau Lebih dan Dibolehkannya Walimah dengan Selainnya.

{Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wasallam bersabda kepada ‘Abdurrahman: Selenggarakanlah walimah, meski dengan seekor kambing}

2745 – (Dari Anas, ia berkata: {Tidaklah Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam menyelenggarakan walimah pada pernikahan dengan isteri-isterinya seperti yang beliau selenggarakan pada Zainab, beliau menyelenggarakan walimah dengan seekor kambing}.

Muttafaq ‘Alaih)

2746 – (Dari Anas: {Bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam menyelenggarakan walimah atas (pernikahan beliau dengan} Shafiyyah dengan tamr ‘dried dates (kurma kering)’ dan sawîq ‘fine flour (tepung)’}

Diriwayatkan oleh Imam yang Lima kecuali an-Nasâ`î)

2747 – (Dari Shafiyyah binti Syaibah, beliau berkata: {Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam menyelenggarakan walimah atas sebagian isterinya dengan dua mudd ‘’ sya’îr ‘barley (gandum)’}

Dikeluarkan oleh al-Bukhârî dengan redaksi seperti ini secara mursal.)

2748 – (Dari Anas tentang kisah Shafiyyah: {Bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam menyelenggarakan walimahnya dengan tamr ‘kurma’, aqth ‘cheese (keju)’, dan samn ‘lemak’} Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim. Dalam riwayat yang lain: {Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam singgah di daerah antara Khaibar dan Madinah selama tiga malam, bercampur dengan Shafiyyah. Saya telah mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimah beliau, yang tidak ada khubz ‘sejenis roti’ dan daging. Tidak ada pula di dalamnya kecuali beliau memerintahkan menggelar al-inthâ’ ‘leather rugs (permadani-permadani kulit)’ sehingga busithat ‘outspread (dihamparkan)’, kemudian diserahkan tamr ‘kurma’, aqth ‘cheese (keju)’, dan samn ‘lemak’ kepada Shafiyyah. Lalu kaum muslimin berkata: Beliau itu salah seorang dari Ummahâtul Mu`minîn ‘Ibunda kaum mukmin’ ataukah sahaya beliau? Maka mereka pun berkata: Jika Nabi menghijabinya, maka beliau adalah salah seorang Ibunda orang-orang beriman, sedangkan jika beliau tidak menghijabinya, maka ia adalah sahaya beliau. Maka ketika beliau melanjutkan perjalanan, waththa`a lahâ ‘to prepare (mempersiapkan)’ (kendaraan) untuknya di belakang beliau dan beliau madda ‘membentangkan’ hijab}.

Muttafaq ‘Alaih).

*Diterjemahkan dari kitab Nail al-Authâr karya Imam asy-Syaukânî.

(Bersambung, Insya Allah. Bagian selanjutnya adalah syarh ‘explanation (penjelasan)’ dari penulis kitab.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: