POLITIK DAN KEBANGKITAN

Sebuah catatan yang kutulis sebagai pengantar edisi terjemahan kitab Afkaar Siyaasiyyah karya Syaikh ‘Abdul Qadiim Zalluum, diterbitkan oleh Penerbit Quwwah pada bulan Maret 2017 M.
POLITIK DAN KEBANGKITAN
(Pengantar Penerbit Quwwah)
 
Buku Pemikiran Politik Islam ini adalah terjemahan Political Thoughts, yang aslinya merupakan kitab berbahasa Arab berjudul Afkâr Siyâsiyyah karya Syaikh ‘Abdul Qadîm Zallûm –rahimahullâh. Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia pernah diterbitkan oleh Penerbit Al-Izzah, Bangil. Meski tidak banyak, beberapa perbaikan kami lakukan. Pembagian tema yang sebenarnya tidak ada di kitab aslinya, kami tambahkan untuk memudahkan pembaca memilih bagian mana yang lebih dulu akan dibacanya, meski semua bagian tetap penting. Lebih dari itu, kami tertarik untuk menerbitkan kembali buku ini mengingat saat ini gairah kembali kepada Islam mulai kembali tampak dengan gegap gempita, dan buku ini sangat penting untuk memberi tambahan asupan pemikiran dan agenda ke depan umat Islam, yaitu menyempurnakan usaha membangkitkan kembali peradaban Islam. Melalui kata pengantar ini, kami ingin sedikit mengulas kaitan buku ini dengan agenda besar itu.
 
Kita, kaum muslimin yang ditakdirkan hidup pada masa kemunduran dunia Islam, sudah punya jawaban apabila disodori pertanyaan mengapa saat ini umat Islam terpuruk? atau bagaimana caranya membangkitkan umat Islam kembali? Semuanya sepakat, pernyataan Imam Malik berikut ini cocok untuk menjawab dua pertanyaan tersebut. Beliau pernah menyatakan: lan yashluha âkhiru hadzihil ummah illâ bimâ shaluha bihi awwaluhâ ‘tidak akan baik generasi penerus umat ini kecuali dengan sesuatu yang menjadikan generasi pertamanya baik’.
 
Praktisnya, bila kita menerjemahkan pernyataan Imam Malik yang masyhur tersebut untuk menjawab dua pertanyaan di atas, kita akan mendapatkan jawaban yang terang bahwa: umat Islam saat ini terpuruk adalah karena tidak menjalankan sesuatu yang dahulu dijalankan oleh generasi pertama umat ini. Juga: cara membangkitkan umat Islam kembali adalah dengan cara menjalankan lagi sesuatu yang dahulu pernah dijalankan oleh generasi pertama umat ini. Tidak ada muslim yang memahami agamanya, yang akan menolak pernyataan tersebut.
 
Hanya saja, apa tepatnya “sesuatu yang dahulu dijalankan oleh generasi pertama umat ini” tersebut? Apa yang dulu pernah diamalkan oleh para Sahabat Nabi namun tidak diamalkan oleh umat Islam sekarang ini? Apabila pertanyaan ini diajukan kepada Syaikh ‘Abdul Qadîm Zallûm, dan kita minta beliau untuk menyebut satu kata saja, barangkali beliau akan memilih: politik. Setidaknya itulah yang tergambar setelah kita membaca tuntas buku Afkâr Siyâsiyyah yang terjemahannya sekarang ada di tangan pembaca ini.
 
Mengapa politik? Dan apa hubungannya dengan kebangkitan? Sedikit kita menoleh jauh ke belakang, ke zaman generasi terbaik umat ini, generasi para Sahabat, dengan bertanya: Siapa sahabat terbaik Rasulullah? Apabila kita hanya dibolehkan menyebutkan empat nama, mereka tentulah Abû Bakr ash-Shiddîq, ‘Umar al-Farûq, ‘Utsmân Dzû an-Nûrayn, serta ‘Alî Abû Turâb–semoga Allah meridhai mereka semua. Masing-masing dari mereka pernah menjadi pemimpin politik pada zamannya, meneruskan kepemimpinan politik Rasulullah. Itu karena, pasca-hijrah, Rasulullah sendiri adalah kepala negara. Negara adalah institusi politik paling terang dan paling berwenang. Adapun mengenai peristiwa hijrah, mustahil ada pengamat sejarah yang menolak bahwa hijrah itulah titik-tolak kebangkitan dan kejayaan kaum muslimin.
 
Karena mengubah kedudukan Rasulullah yang semula hanya sebagai ‘rakyat jelata’ menjadi pemimpin politik tertinggi di Madinah, maka hijrah dengan lugas terbaca sebagai aktivitas sekaligus peristiwa politik. Oleh karena hijrah itu sendiri juga menjadi titik-tolak kebangkitan kaum muslimin, maka amal politik ini juga tak terelakkan untuk disebut sebagai pangkal kebangkitan kaum muslimin. Di sinilah politik dan isu kebangkitan bertemu.
Maka tidak heran, Syaikh ‘Abdul Qadîm Zallûm, ulama aktivis yang namanya juga tercatat sebagai penulis buku Kayfa Hudimat al-Khilâfah (Bagaimana Khilafah Diruntuhkan) ini menunjuk pemisahan Islam dari politik adalah biang kemunduran kaum muslimin. Mengantarkan pembaca menuju inti buku ini, Syaikh ‘Abdul Qadîm Zallûm tanpa basa-basi menyebut bahwa memisahkan politik Islam dari kehidupan dan agama berarti menghancurkan Islam, sistem, dan hukum-hukumnya, serta memusnahkan umat, nilai-nilai, peradaban, dan risalahnya.
 
Beliau juga menyoroti penyesatan negara-negara kapitalis yang mempropagandakan kepada umat bahwa politik tidak sejalan dengan Islam. Propaganda ini berkolaborasi dengan doktrin sesat lain yang mereka hembuskan untuk dianut kaum muslimin: politik adalah bersikap pragmatis dan menerima realitas apa adanya tanpa bisa diubah. Amir kedua Hizbut Tahrir ini menilai upaya negara-negara kapitalis tersebut bertujuan agar umat tetap berada di bawah penindasan negara-negara kafir, dan tidak mampu menemukan jalan bagi kebangkitannya. Tidak hanya sampai di situ, mereka juga mengisi benak kaum muslimin dengan keengganan terlibat dalam masalah politik serta menjauhkan mereka dari upaya mengikuti berita dan peristiwa politik.

 

Upaya musuh-musuh Islam dalam menghancurkan kaum muslimin melalui langkah-langkah politik bukanlah hal yang boleh diremehkan. Aktivitas politik bisa lebih mengguncangkan daripada peperangan. Kita bisa menarik kesimpulan tersebut dari contoh yang dikemukakan Syaikh ‘Abdul Qadîm Zallûm saat membahas persoalan vakum. Beliau menyatakan Khilafah ‘Utsmâniyyah tidak hancur karena peperangan, melainkan setelah berkali-kali mendapat tikaman berupa upaya negara-negara kafir untuk menciptakan kevakuman. Mengenai vacuum sendiri, Syaikh memaparkannya dengan cukup singkat. Namun tetap terlalu panjang jika diuraikan di bagian yang ‘hanya’ bertujuan sebagai pemanasan ini.
 
Memberi penekanan pada aspek politik sama sekali bukan berarti mengabaikan akidah dan upaya mendidik umat untuk menguasai wawasan keislaman (tsaqâfah Islâmiyyah). Bahkan keduanya sangat penting, sehingga Syaikh menyatakan: diperlukan usaha membina umat dengan tsaqâfah Islam dan secara berkesinambungan mengisi mereka dengan pemahaman tentang hukum-hukum dan pemikiran politik Islam, serta menjelaskan bagaimana menggali hukum-hukum dan pemikiran ini dari Akidah Islam dalam kapasitasnya sebagai pemikiran politik. Tampak jelas di sini, seperti juga ditegaskan berkali-kali dalam bagian lain buku ini, bahwa Akidah Islam bahkan harus dijadikan sumber hukum-hukum dan pemikiran politik. Sengaja pernyataan di atas dikutip, karena dianggap sekaligus cukup menggambarkan tujuan penulisan buku ini.
 
Rupanya Syaikh ‘Abdul Qadîm Zallûm menyadari bahwa membangkitkan kesadaran berpolitik berdasarkan Islam di tengah-tengah kaum muslimin yang tengah dalam kondisi terjajah bukanlah hal yang mudah. Namun, dengan nada menyemangati, beliau mengingatkan bahwa meskipun umat Islam hidup dalam penindasan kekuasaan tiran, mereka tidak boleh hanya berpikir mengenai dirinya sendiri. Egoisme tidak sesuai dengan iman mereka serta bertentangan dengan nilai-nilai dan pemikiran yang berakar kuat dalam benak mereka. Karena itu, umat harus berpikir untuk menyelamatkan dunia dan diri mereka serta mengubah diri dan membebaskan dunia; bukan sekadar berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri. Hal ini disebabkan karena umat merupakan bagian dari dunia, dan bahwa mereka diciptakan untuk memandu umat manusia. Begitu mereka memeluk Akidah Islam, mereka diwajibkan untuk menyelamatkan umat manusia dari penderitaan, ketidakadilan, kehinaan, dan perbudakan.
Membaca buku ini, kita akan menyadari bahwa pemahaman politik umat perlu disegarkan kembali. Selain itu, hanyak hal lain yang menarik dan penting mengenai politik Islam yang bisa kita dapatkan dari buku yang tebal terjemahnya dalam bahasa Indonesia kurang dari 250 halaman ini. Sebagai misal, mengenai politik luar negeri dan negarawan.
 
Mengenai politik luar negeri, dibandingkan dengan politik dalam negeri, dipastikan lebih sedikit umat Islam yang menyadari bahwa Islam mengatur pula aspek ini, bahkan di saat kesadaran akan pentingnya penerapan syariat Islam oleh negara sedang jauh meningkat seperti sekarang ini. Padahal Alquran yang sehari-hari kita baca jelas memberikan tuntunan bagi kaum muslimin baik mengenai politik dalam negeri maupun politik luar negeri. Bahkan sejak belum memiliki negara, kaum muslimin telah terjun dalam pembicaraan politik luar-negeri, sebagaimana terabadikan dalam ayat-ayat awal Surat ar-Rûm mengenai persaingan Romawi melawan Persia.
 
Mengenai negarawan, Syaikh ‘Abdul Qadîm, yang berkapasitas sebagai petinggi partai politik Islam internasional yang analisis-analisis politiknya senantiasa dinanti-nanti ini, juga menghubungkan isu kebangkitan dengan kuantitas negarawan dalam tubuh suatu umat. Beliau menyatakan: Agar kaum muslimin dapat kembali bangkit, mereka harus mencari jalan untuk menghasilkan para negarawan dan meningkatkan jumlah mereka dari waktu ke waktu. Bagaimana caranya?
 
Ada tiga syarat bagi tumbuh dan berseminya para negarawan di tubuh umat yang bisa dibaca di dalam buku ini. Menariknya, beliau menyatakan: bagi kaum muslimin, ketiga persyaratan tersebut banyak dalam bentuk buku-buku maupun buah pikiran para ulama. Kaum muslimin tinggal menerjemahkannya dalam aspek-aspek kehidupan praktis. Orang yang mampu mengejawantahkan kitab-kitab dan pikiran para ulama tersebut ke dalam realitas kehidupan itulah yang bisa disebut sebagai negarawan. Jadi, apa saja tiga syarat itu? Rasanya sudah waktunya Anda menyelami kedalaman buku ini sendiri. Karenanya, milikilah dan baca!
 
Bantul, 23 Rabî’ul Awwal 1438 H/21 Januari 2017 M 23.13 WIB
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: