Archive for the ‘Akhlak dan Tasawuf’ Category

MANAJEMEN DOSA ; Kebaikan dalam Maksiat

 Pengantar (Admin amhari.wordpress.com)

Dosa adalah sesuatu yang lumrah dilakukan oleh maAkibat-Berbuat-Maksiat-1nusia. Bahkan Rasulullah menyatakan bahwa anak-cucu Adam adalah orang-orang yang banyak melakukan kesalahan. Lebih ekstrim lagi, di dalam sebuah hadis, Allah ‘mengacam’ orang-orang yang tidak pernah berbuat dosa justru akan digantikan oleh orang-orang yang berbuat dosa. Karenanya, dalam kondisi tertentu, dosa yang dilakukan oleh seorang hamba adalah ‘kebaikan’. Lalu pelaku maksiat yang seperti apakah yang dosanya justru merupakan ‘kebaikan’ baginya.

Di dalam status facebook yang diunggah tanggal 18 Desember pukul 12.34 WIB, Buya Alfitri menguraikan suatu uraian yang menakjubkan mengenai hal ini. Berikut kami kutipkan status beliau secara utuh.

 Manajemen Dosa

Apakah anda termasuk orang yang selama ini sangat berupaya untuk menjauhi kubangan maksiat, lalu ternyata anda justru terperosok ke dalamnya?

Apakah anda adalah orang yang dulu sangat membenci perbuatan maksiat, seperti mencuri, berpacaran atau berzina, lalu ternyata anda suatu hari malah terjerumus melakukannya?

Bagaimana perasaan anda setelah melakukannya? Apakah anda merasa malu, sedih, hina serta menyesal tiada tara? Apakah setelah itu anda segera bertekad untuk tidak mengulanginya, dan mendorong anda untuk berbuat amal kebaikan sebanyak-banyaknya?

Jika itu yang anda rasakan dan perbuat, maka berbahagialah. Sebab, bisa jadi perbuatan maksiat yang anda lakukan itu adalah kebaikan dari Allah, untuk menyadarkan anda pada kesalahan-kesalahan selama ini dalam ketaatan. Mengingatkan pada ketidaksopanan anda dalam ber-taqarrub kepada-Nya.

Mungkin, ketaatan anda selama ini menanamkan benih `Ujub dalam hati, sehingga merasa bangga dengan ketekunan beribadah, dan melupakan eksistensi karunia Allah.

Atau, mungkin ketidaksukaan anda terhadap perbuatan maksiat selama ini, melahirkan penilaian ‘lebih baik’ (Kibr) terhadap diri anda, bila dibandingkan dengan pelaku maksiat yang anda lihat.

Bisa jadi karena penyakit inilah, Allah mentakdirkan anda terjerumus dalam lembah kemaksiatan, agar anda lebih mengenal sifat Allah, hakikat diri dan kualitas ketaatan anda.

Dalam Madarij as-Salikin, Ibnul Qayyim menjelaskan:

الْوَجْهُ الْخَامس:

أَنَّ الذَّنْبَ قَدْ يَكُونُ أَنْفَعَ لِلْعَبْدِ إِذَا اقْتَرَنَتْ بِهِ التَّوْبَةُ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الطَّاعَاتِ، وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ بَعْضِ السَّلَفِ: قَدْ يَعْمَلُ الْعَبْدُ الذَّنْبَ فَيَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ، وَيَعْمَلُ الطَّاعَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا النَّارَ،

“Poin kelima, dosa itu terkadang lebih bermanfaat untuk seorang hamba ketimbang ketaatan yang banyak, ASALKAN dosa itu diiringi dengan taubat yang tulus. Itulah maksud dari ucapan Salaf yang mengatakan, bisa jadi seorang hamba melakukan dosa tapi malah masuk syurga, dan bisa jadi seorang hamba melalukan ketaatan tapi justru masuk neraka karena hal itu”.

قَالُوا: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ: يَعْمَلُ الذَّنْبَ فَلَا يَزَالُ نُصْبَ عَيْنَيْهِ، إِنْ قَامَ وَإِنْ قَعَدَ وَإِنْ مَشَى ذَكَرَ ذَنْبَهُ، فَيُحْدِثُ لَهُ انْكِسَارًا، وَتَوْبَةً، وَاسْتِغْفَارًا، وَنَدَمًا، فَيَكُونُ ذَلِكَ سَبَبَ نَجَاتِهِ،

“Ada yang bertanya, kenapa bisa seperti itu? Jawabannya, karena dosa itu selalu hadir di pandangan pelakunya. Saat berdiri, duduk dan berjalan, dia selalu teringat akan hal itu, sehingga menimbulkan dalam dirinya rasa butuh kepada Allah, taubat, permohonan ampun dan penyesalan. Dan inilah yang akhirnya menjadi penyebab keselamatannya”.

وَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ، فَلَا تَزَالُ نُصْبَ عَيْنَيْهِ، إِنْ قَامَ وَإِنْ قَعَدَ وَإِنْ مَشَى، كُلَّمَا ذَكَرَهَا أَوْرَثَتْهُ عُجْبًا وَكِبْرًا وَمِنَّةً، فَتَكُونُ سَبَبَ هَلَاكِهِ، فَيَكُونُ الذَّنْبُ مُوجِبًا لِتَرَتُّبِ طَاعَاتٍ وَحَسَنَاتٍ، وَمُعَامَلَاتٍ قَلْبِيَّةٍ، مِنْ خَوْفِ اللَّهِ وَالْحَيَاءِ مِنْهُ، وَالْإِطْرَاقِ بَيْنَ يَدَيْهِ مُنَكِّسًا رَأْسَهُ خَجَلًا، بَاكِيًا نَادِمًا، مُسْتَقِيلًا رَبَّهُ

“Sementara pelaku ketaatan, pandangannya selalu dibayang-bayangi oleh amal taatnya; saat berdiri, duduk dan berjalan. Setiapkali mengingatnya, dirinya menjadi bangga, sombong dan merasa berjasa, sehingga hal ini menjadi penyebab celakanya. Walhasil, dosa seperti di atas itu melahirkan ketaatan, kebaikan, dan kondisi hati seperti rasa takut atau malu kepada Allah, serta kondisi dimana kepala tertunduk malu, diiringi dengan air mata penyesalan sambil meminta ampunan Allah”.

كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْآثَارِ أَنْفَعُ لِلْعَبْدِ مِنْ طَاعَةٍ تُوجِبُ لَهُ صَوْلَةً، وَكِبْرًا، وَازْدِرَاءً بِالنَّاسِ، وَرُؤْيَتَهُمْ بِعَيْنِ الِاحْتِقَارِ، وَلَا رَيْبَ أَنَّ هَذَا الذَّنْبَ خَيْرٌ عِنْدَ اللَّهِ، وَأَقْرَبُ إِلَى النَّجَاةِ وَالْفَوْزِ مِنْ هَذَا الْمُعْجَبِ بِطَاعَتِهِ، الصَّائِلِ بِهَا، الْمَانِّ بِهَا، وَبِحَالِهِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعِبَادِهِ.

Beliau juga menjelaskan:

فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا الْعَبْدِ خَيْرًا أَلْقَاهُ فِي ذَنْبٍ يَكْسِرُهُ بِهِ، وَيُعَرِّفُهُ قَدْرَهُ، وَيَكْفِي بِهِ عِبَادَهُ شَرَّهُ، وَيُنَكِّسُ بِهِ رَأْسَهُ، وَيَسْتَخْرِجُ بِهِ مِنْهُ دَاءَ الْعُجْبِ وَالْكِبْرِ وَالْمِنَّةِ عَلَيْهِ وَعَلَى عِبَادِهِ، فَيَكُونُ هَذَا الذَّنْبُ أَنْفَعَ لِهَذَا مِنْ طَاعَاتٍ كَثِيرَةٍ، وَيَكُونُ بِمَنْزِلَةِ شُرْبِ الدَّوَاءِ لِيَسْتَخْرِجَ بِهِ الدَّاءَ الْعُضَالَ.

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba yang kondisinya seperti itu, maka Allah akan campakkan dirinya dalam dosa yang akan menyadarkan dan menunjukkan kadar dirinya, menyelamatkan orang lain dari kejahatannya, membuat kepalanya tertunduk, serta mengeluarkan dari dirinya penyakit `Ujub, sombong dan merasa berjasa (Minnah) kepada Allah dan manusia. Karena itu, dosa yang seperti ini lebih bermanfaat bagi hamba tersebut, dari pada ketaatan yang banyak. Kondisi yang seperti ini, sama dengan meminum obat untuk mengeluarkan penyakit yang kronis”.

Beliau juga menguraikan:

الوجه العاشر :

أَنَّ ذَنْبَ الْعَارِفِ بِاللَّهِ وَبِأَمْرِهِ قَدْ يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ حَسَنَاتٌ أَكْبَرُ مِنْهُ وَأَكْثَرُ، وَأَعْظَمُ نَفْعًا، وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ عِصْمَتِهِ مِنْ ذَلِكَ الذَّنْبِ مَنْ ذُلٍّ وَانْكِسَارٍ وَخَشْيَةٍ، وَإِنَابَةٍ وَنَدَمٍ، وَتَدَارُكٍ بِمُرَاغَمَةِ الْعَدُوِّ بِحَسَنَةٍ أَوْ حَسَنَاتٍ أَعْظَمَ مِنْهُ، حَتَّى يَقُولَ الشَّيْطَانُ: يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوقِعْهُ فِيمَا أَوْقَعْتُهُ فِيهِ، وَيَنْدَمُ الشَّيْطَانُ عَلَى إِيقَاعِهِ فِي الذَّنْبِ، كَنَدَامَةِ فَاعِلِهِ عَلَى ارْتِكَابِهِ

Dan Ibnu `Athaillah menegaskan:

معصية أورثت ذلا وافتقارا خير من طاعة أورثت عزا واستكبارا

Wallaahu a`lam

#ManajemenDosa

Sebarkan jika Anda merasa ini bermanfaat dan bisa menjadi amal jariyah Anda.

Iklan