Archive for the ‘Hadis’ Category

Kitab Walimah dan Binâ` ‘Consummate (Mencampuri)’ Para Istri dan ‘Isyrah ‘Bergaul’ dengan Mereka. Bab Disukainya Walimah dengan Seekor Kambing atau Lebih dan Dibolehkannya Walimah dengan Selainnya.

{Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wasallam bersabda kepada ‘Abdurrahman: Selenggarakanlah walimah, meski dengan seekor kambing}

2745 – (Dari Anas, ia berkata: {Tidaklah Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam menyelenggarakan walimah pada pernikahan dengan isteri-isterinya seperti yang beliau selenggarakan pada Zainab, beliau menyelenggarakan walimah dengan seekor kambing}.

Muttafaq ‘Alaih)

2746 – (Dari Anas: {Bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam menyelenggarakan walimah atas (pernikahan beliau dengan} Shafiyyah dengan tamr ‘dried dates (kurma kering)’ dan sawîq ‘fine flour (tepung)’}

Baca lebih lanjut

Iklan

Kaffahnya Islam dan Abdullah bin Salam

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kâffah, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (al-Baqarah[2]:208)

Ayat ini turun mengenai segolongan Muslimin Ahli Kitab seperti ‘Abdullâh bin Salâm dan kawan-kawan. Hal itu karena ketika mereka telah beriman kepada Nabi, mereka tetap mengagungkan syariat-syariat Mûsâ. Mereka mengagungkan hari Sabtu serta membenci daging dan susu unta. Mereka mengatakan, “Meninggalkan hal-hal tersebut hukumnya mubah di dalam Islam, tetapi hukumnya wajib di dalam Taurat. Karena itulah kami meninggalkannya sebagai bentuk kehati-hatian.”

Baca lebih lanjut

Kewajiban Seorang Imam Menurut Imam ‘Âlî

Kewajiban Seorang Imam Menurut Imam ‘Âlî

Di dalam Mafâtih al-Gayb pada saat membahas Quran surat al-Nisa ayat 59, al-Râzî menyatakan:

اعلم أنه تعالى لما أمر الرعاة والولاة بالعدل في الرعية أمر الرعية بطاعة الولاة فقال : { ياأيها الذين ءامَنُواْ أَطِيعُواْ الله }

Ketahuilah bahwasanya setelah Allah Ta’ala memerintahkan para pemimpin dan penguasa untuk berlaku adil kepada rakyatnya, maka Allah memerintahkan rakyat untuk taat kepada para penguasa. Maka Dia berfirman: {wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah}.

ولهذا قال علي بن أبي طالب رضي الله عنه : حق على الامام أن يحكم بما أنزل الله ويؤدي الأمانة ، فاذا فعل ذلك فحق على الرعية أن يسمعوا ويطيعوا .

Karena itulah sayyidina ‘Ali bin Abî Thâlib mengatakan: “kewajiban seorang imam adalah berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Setelah ia melakukan hal itu, maka wajib bagi rakyat untuk mendengar dan taat.”

Sanadnya terdapat dalam Mushannaf Ibn Abî Syaybah Juz 7 di dalam Kitâb al-Jihâd pada sub Mâ Jâa fî Thâ’ah al-Imâm wa al-Khilâf ‘anhu. Selengkapnya sebagai berikut:

حدثنا وكيع قال ثنا إسماعيل بن أبي خالد : سمعت مصعب بن سعد يقول : قال علي بن أبي طالب : كلمات أصاب فيهن : حق على الامام أن يحكم بما أنزل الله ، وأن يؤدي الامانة ، فإذا فعل ذلك كان حقا على المسلمين أن يسمعوا ويطيعوا ويجيبوا إذا دعوا.

Wakî’ menuturkan kepada kami, ia berkata: Ismâ’îl menuturkan kepada kami: saya mendengar Mush’ab bin Sa’d berkata: ‘Alî bin Abî Thâlib berkata: Kata-kata yang menimpa mereka adalah: Wajib bagi seorang Imam berhukum dengan apa yang Allah turunkan serta menunaikan amanah. Apabila ia telah melakukannya, maka wajib bagi kaum Muslimin untuk mendengar dan menaatinya, serta memenuhi seruannya.

Sanad perkataan Imam Alî tersebut juga terdapat di dalam Tafsîr Ibn Abî Hâtim surat al-Nisâ` tentang ayat Wa idzâ hakamtum bayna al-Nâs an tahkumû bi al-adl.

حدثنا أبي ، ثنا الحسن بن عطية ، ثنا حسن بن صالح ، عن إسماعيل بن أبي خالد ، عن مصعب بن سعد ، قال : قال علي : حق على الإمام أن يحكم بما أنزل الله ، وأن يؤدي الأمانة ، فإذا فعل ذلك وجب على المسلمين أن يسمعوا له ويطيعوا ، وأن يجيبوا إذا دعوا

Bapakku menuturkan kepadaku, al-Hasan bin ‘Athiyah menuturkan kepadaku, Hasan bin Shâlih menuturkan kepadaku, dari Ismâ’îl bin Abî Khâlid, dari Mush’ab bin Sa’d, ia berkata: ‘Alî berkata: Wajib bagi Imam untuk berhukum dengan apa yang Allah turunkan serta menunaikan amanah. Jika ia telah melakukannya, wajib bagi kaum Muslimin untuk mendengarnya, mematuhi, serta memenuhi seruannya.

DOA MEMASUKI BULAN RAJAB

Kaum Muslimin kebanyakan sekarang ini tidak perhatian dengan bulan-bulan hijriyah selain bulan tertentu saja, seperti Ramadhân. Maklum saja, penanggalan yang dipakai di negeri ini sampai saat ini masih menggunakan Miladiyah, yang secara syar’i sebenarnya kurang signifikan dalam menunjang pelaksanaan berbagai ibadah.

‘Alâ kulli hâl, pada saat tulisan ini dibuat, bertepatan dengan 20 Juli 2008, kaum Muslimin telah melewati lebih dari separuh dari bulan Rajab tahun 1429 H. Meski cukup terlambat, namun tak ada salahnya mengucapkan doa yang pernah dicontohkan oleh Nabi. Setiap memasuki bulan Rajab, Nabi berdoa:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allâh, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’bân, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhân.

Demikian seperti terdapat dalam al-Mu’jam al-Awsath, al-Du’â yang keduanya ditulis oleh al-Thabrânî, Syu’ab al-Îmân, Fadhâ`il al-Awqât keduanya karya al-Bayhaqî, ‘Amal al-Yawm wa al-Laylah karya Ibn al-Sunni, serta terdapat pula dalam kitab Faydh al-Qadîr.

Dalam riwayat Ahmad, lafazhnya berbunyi:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ
Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’bân, serta berkahilah pula kami di bulan Ramadhân.

Zâ`idah bin Abî al-Ruqâd (rawi kedua hadis di atas) sendirian dalam meriwayatkan hadis ini. Sedangkan ia dinyatakan oleh al-Bukhârî dan al-Nasâ`î sebagai munkar al-hadîts. Barangkali karena itulah al-Bazzâr menyatakan lâ ba`sa bihi naktubu min hadîtsihi mâ lam najid ‘inda ghayrihi (tidak apa-apa kita menulis hadisnya, selama kita tidak menemukan dari yang lainnya). Terdapat pula dalam hadis riwayat Ahmad di atas, seorang bernama Ziyâd al-Numayrî yang dinyatakan dha’îf oleh Yahyâ bin Ma’în, namun dipuji oleh beberapa ulama yang lain.

Shofhi Amhar (08128473234)

BACALAH ALQURAN

Nabi Muhammad Shalllâ Allâhu ‘alayhi wa Sallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya, hadis nomor 1337, memerintahkan kaum Muslimin untuk membaca Alquran. Beliau bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Bacalah Alquran, karena sesungguhnya ia (Alquran) akan datang pada hari kiamat sebagai syafâ’at (penolong) bagi para sahabatnya.
(HR. Muslim)

Dalam hadis tersebut disebutkan pula anjuran untuk membaca al-Baqarah dan surat Âli ‘Imrân. Kedua surat ini dijuluki oleh Nabi sebagai zahrawain ‘dua mawar’. Hadis tersebut selengkapnya sebagai berikut:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ (مسلم 1337)
Bacalah Alquran, karena sesungguhnya ia (Alquran) akan datang pada hari kiamat sebagai syafâ’at (penolong) bagi para sahabatnya. Bacalah ‘dua mawar’, yaitu al-Baqarah dan surat Âli ‘Imrân, karena sesungguhnya keduanya akan datang pada hari kiamat seperti dua ghamâmah atau dua ghayâyah atau seperti sekumpulan burung yang berbaris yang akan membela para sahabatnya. Bacalah surat al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan. Al-Bathalah tidak akan mampu terhadap surat al-Baqarah. Mu’âwiyah mengatakan: telah sampai kepadaku bahwasanya al-bathalah adalah para penyihir.

Imam al-Nawawî menjelaskan bahwa ghamâmah dan ghayâyah adalah dua kata yang memiliki satu arti, yaitu segala sesuatu yang menaungi manusia di atas kepalanya.

Nasihat Sirr

Nasihat Sirr

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ جَلَدَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ صَاحِبَ دَارِيَا حِينَ فُتِحَتْ فَأَغْلَظَ لَهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ الْقَوْلَ حَتَّى غَضِبَ عِيَاضٌ ثُمَّ مَكَثَ لَيَالِيَ فَأَتَاهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ فَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ هِشَامٌ لِعِيَاضٍ أَلَمْ تَسْمَعْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا أَشَدَّهُمْ عَذَابًا فِي الدُّنْيَا لِلنَّاسِ فَقَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ يَا هِشَامُ بْنَ حَكِيمٍ قَدْ سَمِعْنَا مَا سَمِعْتَ وَرَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ أَوَلَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ وَإِنَّكَ يَا هِشَامُ لَأَنْتَ الْجَرِيءُ إِذْ تَجْتَرِئُ عَلَى سُلْطَانِ اللَّهِ فَهَلَّا خَشِيتَ أَنْ يَقْتُلَكَ السُّلْطَانُ فَتَكُونَ قَتِيلَ سُلْطَانِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Abû al-Mughîrah memberitahu kami, Shafwân mmberitahu kami, Syurayh bin ‘Ubayd al-Hadhramî dan yang lain memberitahu saya, ia berkata: ‘Iyâdh bin Ghanam mencambuk penduduk Dariya ketika (negeri itu) ditaklukkan. Maka Hisyâm bin Hakîm berbicara kasar kepadanya sehingga membuat ‘Iyâdh marah kemudian mengurung diri selama beberapa malam. Lalu Hisyâm bin Hakîm mendatanginya dan memperingatkannya dengan keras. Kemudian Hisyâm berkata kepada ‘Iyâdh: “Tidakkah engkau mendengar Nabi shallâllâhu ‘alayhi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya di antara manusia yang mendapat adzab yang paling keras adalah yang paling keras menimpakan adzab kepada manusia di dunia.’”. Kemudian berkatalah ‘Iyâdh bin Ghanam: “Wahai Hisyâm bin Hakîm, kami mendengar apa yang engkau dengar dan kami juga melihat apa yang engkau lihat. Bukankah engkau juga mendengar Rasûlullâh shallâllâhu ‘alayhi wa sallam bersabda: ‘Siapa saja yang ingin menasihati penguasa dengan suatu perkara, janganlah melakukannya secara terang-terangan, tetapi peganglah tangannya dan bersunyi-sunyilah dengannya. Apabila ia menerimanya, maka pahalanya untukmu. Apabila tidak, engkau telah menunaikan kewajiban kepadanya. Sesungguhnya engkau, wahai Hisyâm, adalah seorang pemberani. ’”

Hadis di atas adalah salah satu dasar yang digunakan sebagai argumentasi melarang menasihati penguasa secara terang-terangan. Namun, menurut Muhammad bin ‘Abdullah al-Mas’ari di dalam kitab Muhasabah al-Hukkam, hadis ini lemah.