Islam dalam Sastra Anonim Kejawen

p-6

Islam Dalam Sastra Anonim Kejawen

Sumber

Dallikal, yen turu nyengkal wadine nyengkal, tegesipun kitabulla, natap mlebu ala wadi, tegese rahabapi, rahaba kang gawe sampur, hudan lil muttakina, yen wis wuda jalu estri, den mutena jroning ala-jroning ala (Darmagandhul).

(Dzalikal : jika tidur kemaluannya nyengkal (bangkit), kitabu la, kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa, raiba fihi : perempuan yang pakai kain, hudan : telanjang (wuda), lil muttaqien : sesudah telanjang, kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita (diterjemahkan oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi dalam Islam dan Kebatinan, hal. 17)

Menjadikan Islam sebagai bahan olok-olokan adalah ciri utama dalam serat Darmagandhul, sebuah sastra anonim yang ditulis abad Misi, sebuah masa di mana politik asosiasi atau yang lebih tepat westernisasi dan politik kristenisasi berjalan sangat intens. Istilah-istilah kunci dalam agama Islam, diputar balikkan maknanya oleh Darmagandhul dengan metode othak-athik gathuk seperti istilah sadat sarengat (syahadat dan syari’at) diartikan dengan yen sare wadine njengat (kalau tidur kemaluannya berdiri), tarekat itu taren kang estri (mengajak istri bersetubuh), sedangkan lafal Muhammad diartikan sebagai makam, kuburan segala rasa, yang berarti memuja diri sendiri, bukan memuji Muhammad yang lahir di tanah arab. Selain Darmagandhul, juga ada serat Gatoloco, di mana dalam serat yang juga anonim ini, istilah-istilah inti dalam Islam diasosiasikan dengan hal-hal yang bersifat cabul. Seperti kata Allah diartikan ala, yang rupanya jelek, yang dimaksud adalah wujud kemaluan laki-laki, sedangkan naik haji ke Mekah diartikan sebagai proses persetubuhan di mana poisisi istri saat bersetubuh mekakah (Rasjidi, 1967 : hal. 9-39).

Merebaknya sastra anonim di kalangan elit Jawa, tidak terlepas dari kekalahan Pangeran Diponegoro pada perang Jawa 1825 – 1830. Meskipun Belanda memenangkan perang besar ini, namun biaya yang ditanggung sangat besar. Kondisi keuangan Kerajaan Belanda hampir bangkrut karenanya. Untuk menutupi kerugian tersebut, pemerintah Belanda menerapkan kebijakan politik tanam paksa (Cultuur Stelsel). Sistem tanam paksa mengharuskan para petani menanami seperlima lahan yang dimiliki dengan tanaman komersial yang sudah ditentukan pemerintah Belanda. Untuk menjalankan politik tanam paksa ini, pemerintah kolonial Belanda menaikkan derajat para bupati mejadi ningrat, dengan syarat para bupati harus melaksanakan kehendak residen Belanda. Sedangkan penduduk pribumi dituntut kepatuhan mutlak sebagai budak (Kahin, 2013 : 12). Belanda menangguk untung yang besar dengan politik tanam paksa ini, utang VOC sebesar 35.500.000 gulden berhasil dilunasi, bahkan kas negeri Belanda bertambah sebesar 664.500.000 gulden.

Proses penganakemasan kalangan bupati dan para ningrat yang lazim disebut priyayi ini, akhirnya menjadikan para priyayi sebagai kelas tersendiri dalam masyarakat Jawa. Bukan hanya kelas sosial tetapi juga orientasi spiritualnya. Berkaca dari kekalahan Pangeran Diponegoro, bagi para priyayi tersebut, menandakan takluknya seluruh Jawa kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga ketaatan bukan lagi tertuju pada kewibawaan Islam, melainkan kepada apa yang disebut kewibawaan Kristen (Akkeren, 1995 : 56). Benih-benih sentimen anti Islam pun mulai bermunculan. Para priyayi tersebut beranggapan bahwa peralihan keyakinan masyarakat Jawa ke agama Islam adalah sebuah kesalahan peradaban dan bahwa kunci kepada modernitas yang sesungguhnya terletak pada penggabungan pengetahuan modern ala eropa dengan restorasi kebudayaan Hindu Jawa. Apa yang menjadi pandangan kaum priyayi Jawa tersebut berasal dari Snouck Hurgronje, di mana menurut Snouck dengan penetrasi pendidikan model Baratlah pengaruh Islam di Indonesia bisa disingkirkan atau sedikitnya dikurangi. Pendidikan juga akan menghilangkan jarak kultural orang Belanda dengan para bangsawan dan kaum aristokrat Indonesia. Selain itu posisi mereka yang relatif “bersih” dari pengaruh Islam, para priyayi tersebut merupakan kelompok sosial yang paling cocok untuk ditarik masuk ke dalam orbit kebudayaan Barat dan dijadikan sebagai rekanan (Shihab, 1998 : 86)

Islam dipandang sebagai penyebab mundurnya wujud paling agung dari kebudayaan tersebut, Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1870-an para penulis dari Kediri meramu gagasan-gagasan semacam ini di dalam tiga karya sastra yang mengagumkan, Babad Kedhiri, Suluk Gatholoco dan Serat Darmogandhul, yang merendahkan dan mengolok-olok Islam. Karya yang disebut terakhir ini meramalkan bahwa penolakan terhadap Islam akan terjadi empat abad setelah kejatuhan Majapahit –ini mungkin ditulis untuk memperingati sebuah sekolah milik pemerintah bagi kaum elite di Probolinggo pada tahun 1878, atau 400 tahun setelah runtuhnya Majapahit sebagaimana secara tradisional diyakini bahwa orang Jawa akan menjadi pemeluk Kristen. (Ricklefs, 2012 : 53-54).

Pemilihan Kejawen bukannya Kristen sebagai jalan spiritual oleh para priyayi tersebut disebabkan dalam pandangan masyarakat Jawa pada umumnya, kekristenan identik dengan penjajahan yang menyengsarakan rakyat banyak. Orang-orang Kristen Jawa sering dicemooh dengan ungkapan londo wurung jowo tanggung (belum berhasil menjadi Belanda dan tanggung/tidak sepenuhnya menjadi orang Jawa, lali jawane (orang jawa yang lupa akan kejawaannya), dan sebagainya. Mereka juga sering dijuluki toewan gendjah (tuan yang belum matang) (Aritonang, 2006 : 99). Agar tidak berhadapan dengan masyarakat pada umumnya, para priyayi tersebut menolak untuk dikristenkan, seperti yang digambarkan Ricklefs,

“Sekitar tahun 1870, seorang Bupati menegaskan komitmennya untuk tetap memeluk Islam dalam pengertian yang lebih instrumentalis daripada spiritual. Dia telah menunjukkan antusiasismenya terhadap segala sesuatu yang berbau Belanda. Karenanya seorang kenalan Belanda bertanya kepadanya, bilakah ini berarti bahwa dia akan beralih menjadi Kristen. Bupati tersebut menjawab, “Ah, ….. sejujurnya, saya lebih senang memiliki empat orang istri dan satu Tuhan daripada satu istri dan tiga Tuhan.” (Ricklefs, 2012:52)

Sastra Kejawen, Penginjilan Jalan Memutar

Sistem tanam paksa dijalankan pada era Gubernur Jendral Van den Bosch. Selain sebagai gubernur, ia juga merupakan ketua di Nederland Bijbelgenootschap. Pada tanggal 27 Februari 1932, Van den Bosch mendirikan Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa). Pada 27 Februari 1832. Selain untuk mempelajari bahasa dan seluk beluk Jawa, lembaga ini diharapkan berfungsi sebagai institusi pendamping penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa. (Simbolon, 2007 :127). Lembaga ini merupakan tempat berkumpul para ahli-ahli Jawa berkebangsaan Belanda. Para javanolog Belanda ini lebih jauh menggali kesusastraan, bahasa dan sejarah Jawa kuno yang telah lama menghilang di kalangan orang Jawa. Para Javanolog Belanda mengembalikan tradisi Jawa kuno (Jawa pra Islam) dan menghubungkannya dengan Surakarta. Javanolog Belanda lah yang “menemukan”, “mengembalikan” dan “memberikan” makna terhadap Jawa masa lalu. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka harus melalui screening pemikiran Javanolog Belanda (Shiraishi, 1997 : 7-9)

Apa yang dilakukan oleh para Javanolog Belanda dalam mengolah sastra Jawa tersebut mirip dengan kisah pertemuan Flaubert dengan Kuchuk Hanum, pelacur Mesir yang dikisahkan oleh Erward Said, dalam magnum opusnya, Orientalisme. Sastra Jawa sekedar menjadi boneka timur para Javanolog, dan semuanya dibuat tanpa ada kesepakatan bersama. Kuchuk Hanum, si pelacur, tidak pernah berbicara tentang dirinya, tidak pernah mengungkapkan perasaannya, kehadirannya, atau riwayat hidupnya kepada Flaubert. Akan tetapi, kondisi Kuchuk Hanum yang lemah dan miskin secara material tidak berdaya, menjadikan Falubertlah yang justru berbicara atas nama dan mewakili dirinya. (Said, 2010 : 8) Kartini memandang resah fenomena ini, sebagaimana tertuang dalam salah satu suratnya kepada temannya di Eropa.

“Ada banyak, ya banyak, pejabat (Belanda) yang membiarkan para pemimpin pribumi mencium kaki dan dengkul mereka. Dalam banyak cara yang halus mereka menjadikan kami merasa bahwa kami berbeda dari mereka. Seakan-akan mereka berkata “Saya orang Eropa, kamu orang Jawa,” atau “Saya tuan, kamu hamba.” Dan bahkan banyak orang Belanda yang tidak begitu suka berbicara kepada kami dalam bahasa mereka. Bahasa Belanda terlalu indah untuk diucapkan oleh mulut berwarna coklat” (Alwi Shihab, 1998 : 96)

Dan arah dari sastra anonim seperti Darmagandhul ini, oleh Susiyanto, dosen IAIN Surakarta yang meneliti serat Darmagandul menunjukkan beberapa paragraf yang secara eksplisit mencita-citakan kekristenan orang-orang Jawa.

Serat ‘Arab djaman wektu niki, sampun mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, Serate Djeng Nabi, Isa Rahu’llahu. (Anonim, 1955:6) yang artinya Serat Arab jaman waktu ini sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan untuk memutusi perkara Serat Kanjeng Nabi Isa Rahullah. “Wong Djawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kawruh, ….”(Anonim, 1955:93). Yang artinya, “Orang Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut) agama kawruh (agama budi, nasrani)”

Kecenderungan menjadikan Islam sebagai bahan hinaan dalam karya sastra, memang ciri khas orientalis yang pada abad XVII – XIX yang didominasi kalangan teolog Kristen. Di Eropa misalnya, kita bisa mengambil contoh karya Dante, The Divine Comedy. Maometto –Muhammad- oleh Dante ditempatkan pada lapisan kesembilan dan sepuluh lapisan Bogias of Maleboge, gugusan parit kelam yang mengelilingi kubu setan di neraka. Dalam pandangan Dante, Muhammad dikategorikan penyebar skandal dan perpecahan, dengan hukuman tubuhnya terus-menerus dibelah dua dari dagu hingga ke anus, bagaikan, kata Dante, sepotong kayu yang papan-papannya dirobek-robek. (Said, 2010 : 101-102).

Penutup

Meskipun sebagai sastra anonim yang tentu saja tidak bisa dipertanggung jawabkan, akan tetapi sampai hari ini, baik Darmagandhul maupun Gatoloco masih terus direproduksi. Bukan hanya bukunya yang terus mengalami cetak ulang, namun tasfir atas kedua serat tersebut juga ditulis oleh banyak pihak. Perbenturan antara Jawa dengan Islam dalam kedua serat tersebut, menjadi patokan dalam karya-karya para misionaris seperti Hendrik Kreamer, Schuurman, Van Lith dan Ten Berge di masa kolonial, dan beberapa nama penting di masa sekarang seperti Jan Bakker, Frans Magnis Suseno, J.B. Banawiratmaja, SJ dan Harun Hadiwiyono. Hal ini menurut Azyumardi Azra merupakan strategi misionaris Kristen untuk menghadapi Islam di Indonesia. Dengan menggali unsur pra Islam dalam kebudayaan lokal, untuk kemudian memisahkannya secara oposisional, seperti Syari’at dengan kebatinan, etika Islam dengan etika Jawa, mengikuti argumen William Roff, guru besar Emiritus Columbia University, bukan hanya untuk menjadikan Islam menjadi kabur (obscure) tapi juga memberi peluang lebih besar bagi keberhasilan misionaris (Steenbrink, 1995: xxii).

Namun, sayangnya, bidang sastra dan kebudayaan, menjadi anak tiri dalam wacana dakwah Islam. Umat Islam, baik awam maupun para cendekiawannya, tidak mempunyai skema relasi Islam dengan kebudayaan lokal, ataupun strategi Islamisasi kebudayaan sebagaimana para pendahulunya. Dari hari ke hari, kebudayaan Jawa makin menjauh dari kaum muslimin, sehingga dari hari ke hari, kebudayaan makin menjadi milik kaum Kejawen dan Kristen. Proses kreatif Islamisasi budaya Jawa seperti mandeg. Kemandegan ini akan merugikan dakwah Islam di tanah Jawa. Karena itu, dakwah di bidang kebudayaan harus menjadi agenda serius mulai sekarang, bila umat Islam tetap ingin sebagai tuan rumah di tanah Jawa.

Boyolali, 12-Jnuari-2014

Daftar Pustaka

Alwi Shihab, Membendung Arus, Respon Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung : Mizan, 1998)

Anonim, Darmagandul. Cetakan IV. (Kediri : Penerbit Tan Khoen Swie, 1955)

Erdward Said, Orientalisme, Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai Subjek, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010).

George McTurnan Kahin, Nasionalisme dan Revolusi Indonesia, (Jakarta : Komunitas Bambu, 2013)

H.M. Rasjidi, Prof. Dr, Islam dan Kebatinan, (Jakarta : Bulan Bintang, 1967)

Jans Aritonang, Pdt. Dr, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2006)

Karel Steenbrink, Kawan Dalam Pertikaian, Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942), (Bandung : Mizan, 1995)

M.C. Ricklefs, Mengislamkan Jawa, Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai sekarang, (Jakarta : Serambi, 2013)

Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia, Cetakan III, (Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 20017)
Philip van Akkeren, Dewi Sri dan Kristus, Sebuah Kajian Tentang Gereja Pribumi di Jawa Timur, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1995)

Susiyanto (Tesis), Misi Kristen dan Orientalisme dalam Serat Darmagandhul, (Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2010).

Takashi Shiraisi, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1997).

Iklan

Halal dan Haram Menurut Ateis (1)

Halal dan Haram Menurut Ateis (1)

Pengantar

Berikut ini adalah dialog dengan para ateis. Melalui dialog ini, saya mencoba mencari beberapa keterangan dari tangan para ateis sendiri tentang aturan. Dialog-dialog ini memberitahu saya bahwa sangat wajar jika ateis itu adalah orang yang tidak memiliki aturan yang jelas di dalam hidupnya, baik bagi diri sendiri, apalagi bagi orang lain. Memang idealnya mereka tidak mau diatur, namun juga sekaligus mereka tidak berhak mengatur orang lain, termasuk jika orang lain itu mengatur mereka.

Shofhi Amhar

Apakah ateis mengenal halal (alternatif: boleh) dan haram (alternatif: tidak boleh)? Berdasarkan apa?

Like ·  · Share · Unfollow Post · 21 November at 19:44 · Edited

9 people like this.

This comment has been hidden.

Unhide

Report

Block Vjar

Give Vjar feedback

Sadam Yakusa Biarno ateismengenal apa yang dipikirkannya. karena mereka menTuhankan Akal.

21 November at 19:49 · Like

Shofhi Amhar Semoga ada yang bermoral di sini. Saya blokir @Kepan Vjar.[1]

21 November at 19:50 · Like

Dindin Miftah Brarti ateis tda pnya than salah d0nx, kalau mrka men tuhan kan akal.

21 November at 19:55 via mobile · Like

Sadam Yakusa Biarno Tuhan itu sesuatu yang diyakini.. dan mereka meyakini akal sbagai sesuatu yg benar.

21 November at 19:58 · Like

Shofhi Amhar Jadi, apa jawabannya?

21 November at 20:00 · Like

Akbar Fals klaw aku mengganti kata halam haram dengan kata salah dan benar. Contoh memakan daging babi itu tidak baik (salah) karna dalam daging babi terdapat hewan kecil yg tidak dapat mati walau sudah digoreng/ dibakar dan hewa kecil itu juga berbahaya bagi tubuh manusia.

21 November at 20:05 · Edited · Like

Yamada Takayuki Nyimak ah..

21 November at 20:06 via mobile · Like

Sadam Yakusa Biarno So??

21 November at 20:08 · Like

Zed percaya halal dan haram? gak. saya percaya sebab akibat.

21 November at 20:08 · Like · 2

Zed Sadam Yakusa Biarno menuhankan akal? jgn ngarang

21 November at 20:09 · Like

Elnino Ianone ilmu pengetahuan…

21 November at 20:10 · Like

Meta Andri Setiawan Ateis menuhankan akal <– jelas aja yg jawab bukan ateis

21 November at 20:10 via mobile · Like

Sadam Yakusa Biarno percaya sebab akibat karena apa ? olah akal kan???

21 November at 20:10 · Like

Zed Elnino Ianone bukan juga. ateis= ga percaya tuhan. thats it

21 November at 20:12 · Like

Zed Sadam Yakusa Biarno gak selalu, seringnya karena pengalaman.

21 November at 20:12 · Like

Meta Andri Setiawan Percaya orang bisa belah laut gak pake akal kah?

21 November at 20:13 via mobile · Like · 1

Rudy Hermanto gila… langsung keluarin jurus sakti blokir ..

wakakakakkaka

21 November at 20:13 · Like

Sadam Yakusa Biarno pengalaman terekam dalam memori, satu kesatuan dgn akal.

21 November at 20:14 · Like

Akbar Fals Apa Benar, Bukan Nabi Musa Yang Membelah Laut Merah?

Nabi Musa sebenarnya tidak membelah Laut Merah. Air laut terbelah karena hembusan angin kuat sehingga mendorong air seperti dijelaskan kitab suci.

Setidaknya itulah yang diyakini oleh Carl Drew, dari tim National Center for Atmospheric Research dan University of Colorado AS

Menurut simulasi komputer pada studi pengaruh angin terhadap air menunjukkan, angin dapat mendorong air pada titik di mana sungai bisa menyatu dengan laguna, kata tim NCAR.

“Simulasi ini mendekati penjelasan kitab-kitab suci,” kata pemimpin studi ini, Carl Drews dari NCAR.

“Terbelahnya Laut Merah bisa dipahami melalui dinamika fluida. Angin menggerakkan air sehingga menciptakan jalan tersebut.”

Pembelahan air laut ini merupakan kisah yang terjadi 3.000 tahun lalu. Kala itu Nabi Musa memimpin Bani Israel keluar dari Mesir, seiring kejaran tentara Firaun.

Dalam cerita di Al Quran dan Injil, dalam pengejaran tersebut tiba-tiba Laut Merah terbelah sehingga memungkinkan Musa dan Bani Israel menyeberangi laut dengan selamat.

Namun ketika pasukan tentara Firaun menyeberang, seketika itu pula air laut kembali menyatu dan menenggelamkan ribuan tentara Firaun.

Drew dan rekannya mempelajari bagaimana topan Samudera Pasifik dapat mempengaruhi kedalaman air.

Tim Drew menunjuk situs bersejarah di selatan Laut Mediterania, namun kondisi formasi tanahnya sudah berbeda.

Model formasi yang sesuai terdapat di Sungai Nil dengan formasi ‘U’. Di sungai tersebut terdapat angin yang bisa berhembus dengan kecepatan 63 mph selama 12 jam tanpa berhenti dan dapat mendorong air berkedalaman 6 kaki (1,8 meter).

“Jembatan darat ini memiliki panjang 3-4 km dan lebar 5 km, jembatan ini terbuka selama empat jam,” ujar tim ini dalam jurnal Public Library of Science PLoS ONE.

“Banyak orang takjub akan cerita ini,” kata Drew.

“Studi ini menunjukkan terbelahnya Laut Merah merupakan bagian dari dasar hukum fisika.”.

Dasar Legenda Timur Tengah yang tidak mempunyai dasar pengetahuan yang jelas, dan tidak logis.

21 November at 20:14 · Like

Irsan Yanuar Halal itu yg bermanfaat, haram itu yg merusak.

21 November at 20:14 via mobile · Like · 1

Sadam Yakusa Biarno jelaslah bukan nabi musa yg membelah laut. itu kan kerjanya alam yg diperintahkan Tuhan.

21 November at 20:17 · Like

Zed ya elah amerika dipercaya

21 November at 20:20 · Like

Bulan Sabit carl draw disuruh membelah laut bisa gk ya??? #senyum

21 November at 20:20 via mobile · Like

Ada Dong haram itu terlarang, misalnya mengkafirkan sesama manusia, memperbudak sesama manusia, menikahi anak kecil, menipu org dengan mengatakan tuhan ada tanpa bukti.

21 November at 20:22 via mobile · Like · 2

Sadam Yakusa Biarno kejadian masa lampau dapat dijelaskan oleh sains. krena Tuhan tidak sembarang menciptakan “ADA”

21 November at 20:22 · Like

Akbar Fals setidak’a pemikiran mereka masih logis

21 November at 20:23 · Like

Ada Dong nabi mu aja gak bisa, eh allah swt mu aja gak bisa membelah laut, kok malah nanya apa org biasa bisa membelah laut. otak luh dikemanain sih? @bulan sambit

21 November at 20:24 via mobile · Edited · Like · 2

Bulan Sabit membelahnya kbetulan pas tongkatnya dipukulin ke laut ya?? #ngakak

21 November at 20:25 via mobile · Like

Sadam Yakusa Biarno haram itu punya makna. jangan sembarang menggunakan(menuhankan) akal.

21 November at 20:28 · Like

Sadam Yakusa Biarno haram itu punya makna. jangan sembarang menggunakan(menuhankan) akal.

21 November at 20:28 · Like

Shofhi Amhar //haram itu terlarang, misalnya mengkafirkan sesama manusia, memperbudak sesama manusia, menikahi anak kecil, menipu org dengan mengatakan tuhan ada tanpa bukti.// berdasarkan apa, mas Ada Dong?

21 November at 20:28 · Like · 1

Shofhi Amhar //Halal itu yg bermanfaat, haram itu yg merusak.// contohnya apa dan berdasarkan apa, pak Irsan Yanuar?

21 November at 20:29 · Like

Shofhi Amhar //percaya halal dan haram? gak. saya percaya sebab akibat.// halal itu intinya: boleh lakukan. haram itu intinya: jangan lakukan. apakah ateis seperti anda tidak mengenal konsep demikian, mas Zed? dan hanya mengakui sebab akibat?

21 November at 20:31 · Like

Shofhi Amhar Yang lain ndak pada nyambung nih. Padahal grup ini punya aturan. Adminnya jangan ikut-ikutan ndak nyambung lah.

21 November at 20:32 · Like

Irsan Yanuar Berdasarkan akal sehat.

21 November at 20:32 via mobile · Like

Anta Reza kata ateis? Emang gw percaya ma haram halal..lol ah xixixi

21 November at 20:34 via mobile · Like · 1

Shofhi Amhar Contohnya, pak Irsan Yanuar? Maksud saya, supaya jelas dan ada realitasnya. Akal sehat sendiri, itu yang bagaimana? Banyak orang yang mengaku “berdasarkan akal sehat”. Bahkan kaum bertuhan juga menyatakan demikian.

21 November at 20:37 · Like

Pelangi Dihatiku Bicara halal dan haram, agama yang cuma bisa bicara halal dan haram sekarang makin kacau, kata halal dan haram dijadikan mainan seenak hati, coba berapa banyak kasus perubahan dari halal menjadi haram , dari haram jadi halal? Umatnya jadi bingung sendiri, halal atau haram, rebonding, duduk ngangkang, merokok, kepiting aja sekarang udah berubah jadi halal, dulu dikatakan haram karena hidup didua alam, kok sekarang bisa jadi halal? Kenapa hanya babi yang jadi fokus utama, orang islam paling suka menghina pemakan daging babi, padahal kata muhamad yang haram bukan babi aja, anjing juga haram, hewan yang bertelingan tegak, hidup didua alam juga haram , tapi kenapa hanya babi yang paling sering dibahas umat islam?

21 November at 20:37 via mobile · Like

Irsan Yanuar Contohnya. Mencuri. Apakah itu halal atau haram?

21 November at 20:43 via mobile · Like

Ada Dong hal itu masih ditanyakan? gak bisa dipercaya

21 November at 20:43 via mobile · Like

Ada Dong berdasarkan kerugian pada nilai kemanusiaan, itu gak ada yah diajarkan di agama kalian? ckckckck kasian

21 November at 20:45 via mobile · Like

Irsan Yanuar ^maksud saya unt latihan akal sehat unt Shofhi Amhar.

21 November at 20:45 via mobile · Like

Jajang Mulyana berdasarkan akal sehat…

tapi boker sembarangan, kawin dengan anjing, sesama jenis, meyakini monyet sebagai nenek moyang.

21 November at 20:46 · Like

Shofhi Amhar salah kamar bu Pelangi Dihatiku. topiknya tidak sedang membahas halal dan haram menurut Islam, tetapi menurut ateisme. kalau menurut Islam mah saya sudah tahu. kalau mau bahas soal itu dengan saya, boleh deh bu pelangi buat topik baru, undang saya.

21 November at 20:47 · Like

Shofhi Amhar //Contohnya. Mencuri. Apakah itu halal atau haram?//

Saya bukan ateis, pak Irsan Yanuar. Justru pertanyaan itu yang ingin saya tahu jawabannya dari para ateis.

21 November at 20:48 · Like · 1

Irsan Yanuar Jajang Mulyana jadi menurut akal sehat anda, kawing dg anjing adalah hal yg baik?

21 November at 20:49 via mobile · Like

Shofhi Amhar //maksud saya unt latihan akal sehat unt Shofhi Amhar.// boleh deh, pak Irsan Yanuar. tapi pertanyaan saya sebelumnya penting dijawab tuh: apa yang dimaksud dengan akal sehat?

21 November at 20:49 · Like

Irsan Yanuar Shofhi Amhar. Apakah yg memakai akal sehat harus yg ateis saja?

21 November at 20:49 via mobile · Like

Ada Dong akal sehat itu berarti tidak mau merugikan diri sendiri dan orang lain, walaupun itu bukan yg seiman. yg akalnya gak sehat yg menganggap anak murtad bukan anaknya lagi, yg mengancam akan membunuh sesama manusia jika pindah ke agama lain, dst

21 November at 20:50 via mobile · Like · 3

Jajang Mulyana menurut loe ???

menurut gwa enggx…

21 November at 20:50 · Like

Irsan Yanuar Jajang Mulyana. Lalu, kenapa anda ingin kawin dengan anjing?

21 November at 20:51 via mobile · Like · 1

Ada Dong yang pasti kalau muslim kaffah gak mungkin akalnya sehat, kalau muslim setengah-setengah atau teis non-muslim yg rada2 mungkin masih rada2 waras

21 November at 20:54 via mobile · Edited · Like

Jajang Mulyana oh anda udah kawin dengan anjing????

21 November at 20:52 · Like

Zed Shofhi Amhar halal itu intinya: boleh lakukan. haram itu intinya: jangan lakukan. apakah ateis seperti anda tidak mengenal konsep demikian, mas Zed? dan hanya mengakui sebab akibat?

=========>

halal haram konsepnya agama kan? definisi halal= boleh dilakukan. haram= dilarang dan bila dilakukan, dosa. ya sah sah aja gue gak percaya.

21 November at 20:52 · Like · 1

Sadam Yakusa Biarno nambah. akal sehat= penggunaan akal scra objektif, bukan subjektif.

21 November at 20:52 · Like

Shofhi Amhar //Apakah yg memakai akal sehat harus yg ateis saja?// saya kan sudah tegaskan sebelumnya bahwa para pemercaya Tuhan juga bicara tentang akal sehat. tetapi topik yang saya angkat kan halal-haram menurut ateis. jadi yang jawab ateis dong. kalau pertanyaan ini saya ajukan untuk pemercaya Tuhan, saya tidak bertanya di sini. nah, jadi bagaimana, pak Irsan Yanuar.

21 November at 20:53 · Like

Jajang Mulyana gw cuma ikut alur bicaramu,,,,

loe pura2 bego,,, gwa bego2in….!

21 November at 20:53 · Like

Meta Andri Setiawan Jadi laut terbelah karena angin topan, dan…… ada serbongan orang yg bisa jalan menembus topan? Emezinkkk

21 November at 20:53 via mobile · Like

Shofhi Amhar //akal sehat itu berarti tidak mau merugikan diri sendiri dan orang lain, walaupun itu bukan yg seiman. yg akalnya gak sehat yg menganggap anak murtad bukan anaknya lagi, yg mengancam akan membunuh sesama manusia jika pindah ke agama lain, dst// nah, ini menarik. akal sehat = tidak mau merugikan diri sendiri dan orang lain. terimakasih untuk definisinya, mas Ada Dong. akan saya renungkan.

21 November at 20:55 · Like

Pelangi Dihatiku shofie saya gak salah kamar, lu aja yang gak bisa paham tulisan ku , pertanyaan diatas berasal dari siapa untuk tujuan apa, lu yang gak paham, sotoy

21 November at 20:55 via mobile · Like

Shofhi Amhar terimakasih, Pelangi Dihatiku. yang punya kamar itu saya. jadi saya tau untuk apa saya menulis topik ini. kalau anda merasa tidak salah kamar, coba tunjukkan, mana jawaban anda untuk pertanyaan saya. ya?

21 November at 20:57 · Like

Pelangi Dihatiku bagi atheis tidak kenal haram dan halal, haram dan hala hanya ciptaan muhammad agar umatnya mau mengikuti perkataannya, tapi TIDAK BOLEH dibuktikan kebenarannya atau alasannya terlebih dahulu, jadi bila tanya apakah atheis mengenal haram halal ini pertanyaan bodoh, ngapaian mencampur adukkan ajaran muhamad dengan yang lain?

21 November at 20:59 via mobile · Edited · Like · 1

Irsan Yanuar Akal sehat ya kemampuan unt membedakan benar salah, baik buruk.

21 November at 20:59 via mobile · Like

Shofhi Amhar kembali ke mas Ada Dong. misalnya, ada orang membunuh anak anda, dan kebetulan itu adalah istri anda sendiri. apakah konsep “akal sehat = tidak mau merugikan diri sendiri dan orang lain” masih berlaku?

21 November at 21:00 · Like

Jajang Mulyana Irsan Yanuar Akal sehat ya kemampuan unt membedakan benar salah, baik buruk.

======

faktanya tidak selancar yg anda koar2kan…

terkadang bebal juga ada…..

21 November at 21:00 · Like

Shofhi Amhar //nambah. akal sehat= penggunaan akal scra objektif, bukan subjektif.// ini lebih menarik lagi, mas Sadam Yakusa Biarno. tetapi saya masih belum memahami bagaimana konsep “objektif, bukan subjektif” akan bisa dikonversi menjadi aturan (halal dan haram). mohon pencerahan nih. mengingat pengalaman saya selama ini menjumpai betapa subjektifnya persoalan aturan itu. misal: beberapa kampus tidak membolehkan kuliah hanya menggunakan sandal jepit. nah, ini bagaimana cara menganalisanya dari sudut pandang “objektif, bukan subjektif”?

21 November at 21:04 · Edited · Like · 1

Pelangi Dihatiku Shofhi coba lu jawab pertanyaan gw kenapa diislam kata halal dan haram sering dijadikan mainan, seteo halal setempo haram, direbonding, merokok, makan kepiting dll, kenapa bisa berganti2, kenapa umat islam paling suka menghina daging babi sedangkan daginh anjing sama haramnya dengan daging babi yakan

21 November at 21:05 via mobile · Like · 1

Anes Jinkyu Maaf saya mau tanya apakah artinya haram ? Tolong jgn suruh saya buka google ! Sebab dar jwbanmu sy akan olah.

21 November at 21:06 via mobile · Like

Sadam Yakusa Biarno mas Shofhi Amhar konsep objektif trhadap aturan disyaratkan pada masuk akal tidaknya dgn d dukung kekuatan sains. bukan politisasi trhadap aturan.

21 November at 21:17 · Edited · Like

Pelangi Dihatiku shofhi lu ngomong obyektif bukan subyektif, nahlo kenapa halal dan haram sekarang jadi obyektif bukan subyektif lagi buktinya banyak yang beda pendapat

21 November at 21:08 via mobile · Like

Shofhi Amhar //bagi atheis tidak kenal haram dan halal, haram dan hala hanya ciptaan muhammad agar umatnya mau mengikuti perkataannya, tapi TIDAK BOLEH dibuktikan kebenarannya atau alasannya terlebih dahulu, jadi bila tanya apakah atheis mengenal haram halal ini pertanyaan bodoh, ngapaian mencampur adukkan ajaran muhamad dengan yang lain?// sudah saya katakan sebelumnya, bahwa halal itu intinya: boleh dilakukan. haram: tidak boleh dilakukan. ini sekaligus jawaban untuk mas Anes Jinkyu ya.. nah, jika ateis tidak mengenal halal dan haram, berarti tidak mengenal aturan “mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak”. apakah memang demikian, bu Pelangi Dihatiku?

21 November at 21:10 · Like

Tala Portal Haram halal it tidak ada di ATEIS Bos.

Contoh.makan babi kan ada agama yg mengharamkan nya jika di makan,namun di ateis bukan saja di makan.di kawini halal.

2 melawan org tua kan haram .kalau di ateis bukan melawan orang tua,tapi menyetubuhi org tua sah sah aja asal suka dgn suka.

3.bersetubuh dgn wanita kan haram jika belum menikah.tapi di ateis sah sah saja walau pun 1 wanita dgn 1000 laki2.jadi tidak lah heran anak2 atdis it wajah nya tidak mirip dgn bpak2 mereka.

21 November at 21:10 via mobile · Like

Tala Portal Jadi buat apa mendalami ateis jika luar nya saja sdah biadaa sehnga tak ada beja nya lg antara hewan dan manusia

21 November at 21:13 via mobile · Like

Rudy Hermanto wakakakaka.. putar balik mau gimana tetap aja akhirnya nuju ke diri sendiri

21 November at 21:14 · Like

Pelangi Dihatiku itukan halal dan haram versimu SHOFHI, lu sotoy deh, dalam agama islam arti halal dan haram gak seperti itu, lagipila siapa yang berhak menentukan boleh dilakukan atau tidak? bapakmu ya? atau dimuhamad dengan dalil perintah allah, kenapa mui ikutikutan bikin aturan halal haram baru tapi gak semua umat islam ikuti?,

21 November at 21:14 via mobile · Like · 1

Shofhi Amhar //Akal sehat ya kemampuan unt membedakan benar salah, baik buruk.// benar dan salah, baik dan buruk, itu kan tidak beda jauh dengan halal dan haram yang sedang saya tanyakan, pak Irsan Yanuar. jika akal sehat adalah seperti yang anda sebutkan, kita akan berputar-putar nih:

___

– apa dasar bagi halal dan haram menurut ateis?

+ akal sehat

– apa yang dimaksud dengan akal sehat?

+ kemampuan untuk mengenal halal dan haram?

– bagaimana cara mengenal halal dan haram?

+ dengan akal sehat

– apa itu akal sehat?

+ ya cara orang agar mengenal halal dan haram

—-

Wah, repot kan kalau begini?

21 November at 21:15 · Like

Pelangi Dihatiku athies gak kenal aturan, yang atheis kenal lu tanam lu tuai, paham,

21 November at 21:16 via mobile · Edited · Like · 1

Shofhi Amhar //Shofhi coba lu jawab pertanyaan gw kenapa diislam kata halal dan haram sering dijadikan mainan, seteo halal setempo haram, direbonding, merokok, makan kepiting dll, kenapa bisa berganti2, kenapa umat islam paling suka menghina daging babi sedangkan daginh anjing sama haramnya dengan daging babi yakan//

yang menjadikannya mainan ateis atau bukan? kalau bukan, bikin topik sendiri saja ya? saya bikin topik ini untuk tau konsep halal dan haram menurut ateis, bukan menurut yang bukan ateis. begitu, bu Pelangi Dihatiku.

21 November at 21:16 · Like

Shofhi Amhar //mas Shofhi Amhar konsep objektif trhadap aturan disyaratkan pada masuk akal tidaknya dgn d dukung kekuatan sains. bukan politisasi trhadap aturan.// untuk kasus sandal jepit, bagaimana mas Sadam Yakusa Biarno?

21 November at 21:17 · Like

Shofhi Amhar //shofhi lu ngomong obyektif bukan subyektif, nahlo kenapa halal dan haram sekarang jadi obyektif bukan subyektif lagi buktinya banyak yang beda pendapat//

sepertinya ada kesalahan tulis ya, bu Pelangi Dihatiku?

21 November at 21:19 · Like

Pelangi Dihatiku bagi atheis kata halal dan haram itu tidak ada, itu hanya karangan muhamad agar umatnya mau patuh tampa bertanya apa alasannya, titik,, athies mau beepikir gak seperti umat muhamad yang seperti kerbau dicocok hidungnya, dikatakan haram, halal nurut aja, tapi tetap aja umatnya banyak yang bangkang, tuh rokok halal atau haram aja ,asih bikin bingung yakan

21 November at 21:20 via mobile · Like · 1

Anes Jinkyu Maksud pertanyaanku adl kenapa dikatakan masjidil haram, tapi umatnya malah berbondong2 kesana bukan masjidil halal. …………. Nah, bagi atheis yg ada bukan halal atau haram lebih tepatnya yg “baik” atau yg qmerugikan”. Ukurannya ya dirinya sendiri dilihat dari segi kebutuhan dan kesehatan kali ya.

21 November at 21:21 via mobile · Like · 1

Shofhi Amhar //bagi atheis kata halal dan haram itu tidak ada, itu hanya karangan muhamad agar umatnya mau patuh tampa bertanya apa alasannya, titik,, athies mau beepikir gak seperti umat muhamad yang seperti kerbau dicocok hidungnya, dikatakan haram, halal nurut aja, tapi tetap aja umatnya banyak yang bangkang, tuh rokok halal atau haram aja ,asih bikin bingung yakan// ini komentar mengulang kan, bu Pelangi Dihatiku? sudah saya tanggapi di atas lho ya..

21 November at 21:22 · Like

Sadam Yakusa Biarno mas Shofhi Amhar oh ya. trkait kasus diatas, saya kira ada beda cara pandang trkait disiplin dlm menuntut ilmu,sehingga menimbulkan perbedaan pda bbrpa kampus.

21 November at 21:22 · Like

Tala Portal Bos@ateis it kan org2 tak bertuhan.org2 tak bertuhan sudah jelas org2 yg hdup nya tidak ada aturan.org2 yg tidak ada aturan it karna mereka tidak mau di atur.

Org2 yg tak mau di atur adalah org2 malas.

Knpa.krna mereka tidak mau di atur.

21 November at 21:23 via mobile · Like

Pelangi Dihatiku shofhi kenapa harus ditempat lain, disini juga bahas halal haram, ngeles atau gak bisa jawab, yang menentukan halal dan haram itu mui, aliasn majelis ulama indonesia, saya batu tahu ternyata menurut sofhi mui itu atheis ya

21 November at 21:24 via mobile · Like · 1

Shofhi Amhar //Maksud pertanyaanku adl kenapa dikatakan masjidil haram, tapi umatnya malah berbondong2 kesana bukan masjidil halal. …………. Nah, bagi atheis yg ada bukan halal atau haram lebih tepatnya yg “baik” atau yg qmerugikan”. Ukurannya ya dirinya sendiri dilihat dari segi kebutuhan dan kesehatan kali ya.// ini pertanyaan untuk umat Islam kan, mas Anes Jinkyu? beberapa kali sudah saya sampaikan pada komentar yang lalulalu, topiknya bukan halal dan haram menurut umat Islam, tetapi menurut ateis. jadi ini tidak relevan. sebaiknya dibuat topik lain.

21 November at 21:25 · Like

Pelangi Dihatiku shofhi itu bukan jawaban tapi lu usir gw

21 November at 21:25 via mobile · Like

Shofhi Amhar //shofhi kenapa harus ditempat lain, disini juga bahas halal haram, ngeles atau gak bisa jawab, yang menentukan halal dan haram itu mui, aliasn majelis ulama indonesia, saya batu tahu ternyata menurut sofhi mui itu atheis ya//

hehe,, kok maksa. topiknya kan sudah jelas: “halal-haram menurut ateis”, bukan “halal-haram menurut umat islam”.  kalau masih mau memaksakan hal beginian di sini, ke depan saya tidak layani ah. kalau masih ngeyel, saya juga bisa memaksa anda untuk diam. hehe,,

21 November at 21:27 · Like

Anes Jinkyu #shofhi, bukankah sudah saya jwb bagi Atheis itu ………… Nah pertanyaan halal dan haram itu loe tunjukin ke muslim lebih tepatnya bukan Atheis ! Gue baru masuk tadi sore jadi gak tau loe ini tipe diskusor model bijimane ? ………………… #Tala Portal, hebat dari asumsi sendiri diberi kaitan pandangan sendiri utk menjugde kaum Atheis, hebat. Memang hidup itu hanya ada hukum agama apa utk membatasi prilaku manusia ? Masih ada norma, kepatutan, keadilan hak dan kewajiban, kesehatan dll. Jgn main asumsi sendiri bung !

21 November at 21:42 via mobile · Like · 1

Anes Jinkyu Kebiasaan kaum beragama utk memaksakan kehendaknya. Wkwkwkwkwkw….. Hehehe kamu ketahuan….. !

21 November at 21:45 via mobile · Like · 1

Shofhi Amhar //#shofhi, bukankah sudah saya jwb bagi Atheis itu ………… Nah pertanyaan halal dan haram itu loe tunjukin ke muslim lebih tepatnya bukan Atheis !// dan pertanyaan anda juga sudah saya tanggapi. kalau anda baca tanggapan saya, tentu anda tidak akan mengatakan bahwa halal dan haram lebih tepat ditujukan ke muslim. dan terbukti, kawan-kawan anda yang ateis juga paham dengan apa yang saya katakan. tapi kalau anda belum paham, baiklah saya ulangi dengan bahasa yang berbeda: jika anda keberatan dengan istilah halal dan haram, silakan ganti kata halal dalam pertanyaan saya dengan “boleh dilakukan” dan kata haram dengan “tidak boleh dilakukan”. nah, jadi, apakah ateis mengenal hal-hal yang “boleh dilakukan dan “tidak boleh dilakukan”?

21 November at 21:47 · Like

Shofhi Amhar //shofhi itu bukan jawaban tapi lu usir gw// saya memperingatkan anda, karena anda agak ngeyel, bu Pelangi Dihatiku.  dan jawaban saya memang tidak menjawab, karena sudah saya katakan berkali-kali: topiknya bukan itu. paham ya?

21 November at 21:51 · Like

Anes Jinkyu Cape deh…… Masih ada norma, etika, moral, keadilan hak dan kewajiban, kesehatan dll. ……………….. Kaum theis menang ada surga, kaum Atheis lebih dari kalian karena kita tak punya jaminan kecuali tertekan dan tak punya pilihan. Kaum Theis mau bom bunuh diri atau perang salib ada garansi surga, buat Atheis tunggu dulu.

21 November at 22:06 via mobile · Like

Shofhi Amhar //Masih ada norma, etika, moral, keadilan hak dan kewajiban, kesehatan dll.// saya anggap kalimat ini adalah jawaban atas pertanyaan saya, sehingga seolah anda mengatakan: ya, ateis mengenal halal dan haram dengan istilah yang berbeda, yaitu //norma, etika, moral, keadilan hak dan kewajiban, kesehatan dll//. nah, apa dasar atas semua nilai tersebut? barangkali untuk nilai yang anda sebut secara jelas terakhir bisa diabaikan, karena ukurannya bisa diukur dengan alat medis. sedangkan yang lain, apa dasar yang anda gunakan untuk merumuskan rincian dari nilai-nilai tersebut, mas Anes Jinkyu?

21 November at 22:11 · Like

Shofhi Amhar //mas Shofhi Amhar oh ya. trkait kasus diatas, saya kira ada beda cara pandang trkait disiplin dlm menuntut ilmu,sehingga menimbulkan perbedaan pda bbrpa kampus.// jadi, bagaimana cara menganalisis beda cara pandang tersebut dengan konsep “akal sehat = objekti, tidak subjektif”, mas Sadam Yakusa Biarno?

22 November at 04:58 · Like

Irsan Yanuar Sekedar meluruskan saja, ateisme itu hanyalah soal ketidakpercayaan akan tuhan saja. Tidak membawa ajaran apa2.

Jadi, soal aturan2, kaidah2 kehidupan ya berpulang kepada pemikiran, dan persepsi masing2 individu.

22 November at 06:04 via mobile · Like · 2

Shofhi Amhar Makanya saya tanya kepada ateis, bukan ateisme.

22 November at 06:07 · Like · 1

Ada Dong kalau aturan yah jelas, ikut ke aturan negara dimana ateis itu terdaftar atau tinggal, dan aturan itu juga mengikat teis di negara yg sama, jadi gak ada kaitannya dengan keateisan

22 November at 06:21 · Like

Anes Jinkyu Utk bgmn norma, etika, susila dll terbentuknya itu lain hal bro. Lihat google atau buka buku pengantar ilmu hukum saja. Hehehehehehe……

22 November at 10:47 via mobile · Like

Shofhi Amhar Kalau begitu, bisa dikatakan bahwa para ateis tidak memiliki konsep halal dan haram, selain:

1. Mengikuti hukum negara di mana dia tinggal

2. Mengikuti pengantar ilmu hukum yang bisa dicari di google

Jika hukum negara tempat mereka tinggal menggunakan aturan-aturan agama tertentu, maka mereka secara tidak langsung mereka juga tunduk kepada aturan-aturan agama tersebut. Dan jika pengantar ilmu hukum yang dicari di google itu dibuat oleh para ahli hukum yang mengambilnya dari agama, berarti ateis juga tunduk kepada agama.

Kesimpulan yang menarik.

23 November at 05:12 · Like

 


[1] Terpaksa dilakukan karena mengganggu diskusi dengan gambar porno

Penjelasan Syaikh Nâshiruddîn al-Albânî Mengenai Hadis Safînah tentang Khilafah Tiga Puluh Tahun

Penjelasan Syaikh Nâshiruddîn al-Albânî Mengenai Hadis Safînah tentang Khilafah Tiga Puluh Tahun

Hadis Safînah dimaksud dalam hal ini adalah:

الخلافة ثلاثون سنة ، ثم تكون بعد ذلك ملكا

Khilâfah adalah tiga puluh tahun, kemudian setelah itu menjadi mulk (kerajaan)

 

Syaikh Nâshiruddîn al-Albâni rahimahullâh mengomentari hadis ini sebagai berikut:

“Dikeluarkan oleh Abû Dâwud (4646, 4647), at-Tirmidzî (2/35), ath-Thahâwî di dalam Musykilul Âtsâr (4/313), Ibnu Hibbân di dalam Shahîhnya (1534, 1535 – mawârid), Ibnu Abû ‘Âshim di dalam as-Sunnah (q. 114/2), al-Hâkim (3/71, 145), Ahmad di dalam al-Musnad (5/220, 221), ar-Rûyânî di dalam Musnadnya (25/136/1), Abû Ya’lâ al-Mûshilî di dalam al-Mafârîd (3/15/2), Abû Hafsh ash-Shyrfî di dalam Hadîtsnya (q. 261/1), Khaitsamah ibn Sulaimân di dalam Fadhâilush Shahâbah (3/108-109, ath-Thabrânî di dalam al-Mu’jam al-Kabîr (1/8/1), Abû Nu’aim di dalam Fadhâilush Shahâbah (2/261/1), al-Baihaqî di dalam Dalâilun Nubuwwah (j. 2) dari beberapa jalan melalui Sa’îd ibn Jumhân dari Safînah Abû ‘Abdurrahmân Mawlâ Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Lalu ia menyebutkannya secara marfû’.

Lanjutkan membaca

Bagaimana Mau Mendirikan Khilafah, Sedangkan…?

Pengantar
Ini adalah dialog saya dengan seorang dosen UIN Sunan Kalijaga—hadâhullâh wa iyyâya—via sms, ketika saya mengirimkan sms kepada beliau yang berisi sosialisasi dan ajakan untuk hadir dalam acara Konferensi Rajab 1432 H di JEC Yogyakarta.
Diskusi ini berakhir dengan sebuah ketidaksepakatan mengenai: Apakah Buya Natsir—rahimahullâh—memiliki konsep yang matang tentang Negara Islam? Pendirian saya: Tidak. Sedangkan pak dosen menyatakan sebaliknya. Namun sayangnya beliau tidak menjawab ketika ditanya mengenai buku apa yang menunjukkan bahwa Buya Natsir memang punya konsep Negara Islam yang matang?
Semoga Allah mengampuni kami semua dan memperkenankan ribuan doa yang terpanjat setiap hari untuk kembalinya Daulah Khilafah. Âmîn.
Dosen:
Sejahtera di bawah kesatuan umat. Bagaimana mencitakan khilafah, masjid saja HTI tidak punya? Terima kasih.
16/05/2011 5:27 pm

Celaka Bagi Orang yang Mendengar Ayat Ini Lalu Memuntahkannya

Pernyataan dalam judul di atas adalah terjemah harfiyah sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wasallam yang dinukil oleh Imam al-Qurthubî di dalam kitab tafsir beliau, al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur`ân. Ayat yang dimaksud adalah:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. {al-Baqarah [2]:164}

Lanjutkan membaca

Debat Muslim vs Atheis Tentang Penciptaan

Ini adalah diskusi tentang keberadaan Sang Pencipta antara Karl Karnadi (atheis) dengan Ustadz Nidlol Masyhud (muslim) di milis [parapemikir] dalam thread berjudul Apakah Tuhan menciptakan alam semesta? – Penciptaan versi Indian, Cina, dsb yang dibuat oleh Karl Karnadi. Saya merapikan dan membuang beberapa peserta yang tidak berperan signifikan dalam jalannya diskusi. Semoga bisa diambil manfaatnya.

karl karnadi

05/05/08

Orang Indian (Amerika) percaya bhw manusia itu muncul dari gunung2 di amerika sana. Untuk detilnya hrs saya liat dulu di Wikipedia tentunya.

http://en.wikipedia.org/wiki/Creation_myth

versi Indonesianya yg nggak lengkap (hanya Islam & Hindu):

http://id.wikipedia.org/wiki/Mitos_penciptaan

Untuk legenda Cina: pd awalnya ada telur, telur tersebut pecah (tiba2) jd dua, kemudian Pangu lahir. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pangu).

Lanjutkan membaca

Kitab Walimah dan Binâ` ‘Consummate (Mencampuri)’ Para Istri dan ‘Isyrah ‘Bergaul’ dengan Mereka. Bab Disukainya Walimah dengan Seekor Kambing atau Lebih dan Dibolehkannya Walimah dengan Selainnya.

{Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wasallam bersabda kepada ‘Abdurrahman: Selenggarakanlah walimah, meski dengan seekor kambing}

2745 – (Dari Anas, ia berkata: {Tidaklah Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam menyelenggarakan walimah pada pernikahan dengan isteri-isterinya seperti yang beliau selenggarakan pada Zainab, beliau menyelenggarakan walimah dengan seekor kambing}.

Muttafaq ‘Alaih)

2746 – (Dari Anas: {Bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam menyelenggarakan walimah atas (pernikahan beliau dengan} Shafiyyah dengan tamr ‘dried dates (kurma kering)’ dan sawîq ‘fine flour (tepung)’}

Lanjutkan membaca